AYO MENGHAFAL AL-QUR'AN: Mari bergabung menjadi penghafal Al-Qur'an dalam grup whatsapp dengan metode MANDIRI: 1.Sistematis, 2. Informatif 3. Simpel; Info & Pendaftaran Ikhwan klik MUSHAF1 dan Akhawat klik MUSHAFAH 1KONSULTASI WARIS ISLAM. Butuh solusi masalah waris keluarga online dan cepat ? klik KONSULTASI

Pengertian Nasikh dan Mansukh di Dalam Al-Qur'an dan Contohnya

Di dalam al-Qur'an ada ayat-ayat mengenai perintah atau larangan tertentu yang kaidah hukumnya telah diganti atau dipindahkan ke ayat lainnya yang notabene merupakan kesimpulan hukum dari perintah atau larangan tersebut. Ilmu yang berkaitan dengan permasalahan semacam  ini dikenal dengan istilah nasakh.
Nasakh (an-Nashu) menurut istilah bahasa pengertiannya menunjukkan kepada suatu ungkapan yang berarti membatalkan sesuatu kemudian menempatkan hal lainnya sebagai pengganti, dengan cara menghapus sama sekali atau memindahkan. Pengertian nasakh meliputi 2 hal, yakni nasikh artinya adalah pengganti (yang menghapus), sementara mansukh adalah yang diganti (yang dihapus). Bab nasakh merupakan salah satu pilar penyangga yang paling besar dalam ijtihad, karena untuk memahami pengertian perintah-perintah amatlah mudah yaitu hanya dengan melalui makna lahiriah (tersurat) dan berita-berita yang ada, demikian pula untuk mengetahui bebannya tidaklah sulit pelaksanaannya. Hanya saja yang menjadi kesulitan itu ialah mengetahui bagaimana caranya mengambil kesimpulan hukum dari makna-makna yang tersirat di balik nashPara imam berkata: Seseorang  tidak boleh menafsirkan al-Qur'an sebelum mengetahui nasikh dan mansukhnya.


1. Nasakh di Masa Shahabat

  • Abu Hurairah r.a. telah menceritakan, bahwa Hudzaifah r.a. ditanya oleh muridnya tentang suatu masalah, lalu ia menjawab: "Sesungguhnya orang yang boleh memberikan fatwa itu hanya ada tiga macam orang, salah satu diantaranya yaitu seseorang yang mengetahui tentang masalah nasikh dan mansukh", Lalu mereka (murid-muridnya) bertanya: "Siapakah yang mengetahui nasikh dan mansukh?" Hudzaifah menjawab: "Umar, atau sultan yang terpaksa harus mengeluarkan fatwanya, atau seorang lelaki yang dibebani untuk memberi fatwa."
  • Ad-Dahhak ibnu Muzahim telah menceritakan, bahwa pada suatu hari Ibnu Abbas r.a. bersua dengan seorang qadhi yang sedang memutuskan suatu perkara, lalu ia menendang dengan kakinya seraya bertanya: "Apakah kamu telah mengetahui tentang mana yang nasikh dan mana yang mansukh?", Lalu qadhi itu berkata: "Siapakah yang mengetahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh?", Ibnu Abbas bertanya kembali: "Jadi kamu masih belum mengetahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh?" Qadhi menjawab: "Tidak", lalu Ibnu Abbas r.a.berkata: "Kamu ini adalah orang yang celaka dan mencelakakan."
  • Ali r.a. pernah berkata kepada seorang qadi (hakim): Apakah kamu mengetahui nasikh dan mansukh? Ia menjawab: Tidak. Ali berkata: kamu celaka dan mencelakakan.
  • Betapa pentingnya kedudukan masalah nasikh dan mansukh di dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya di mata para sahabat, karena sesungguhnya keduanya adalah sama. Al-Miqdad ibnu Ma'diykariba telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: "Ingatlah, sesungguhnya telah diturunkan kepadaku Alkitab (Al-Qur'an) dan yang semisal dengannya (Sunnah)- sebanyak 3 kali- Ingatlah, hampir tiba saatnya ada seorang lelaki yang mengatakan seraya bersandar pada singgasananya: "Kamu sekalian harus berpegang teguh kepada Al-Qur'an ini; maka apa saja perkara yang dihalalkan di dalamnya, maka halalkanlah ia. Dan apa saja perkara yang diharamkan di dalamnya, maka haramkanlah ia."

2. Diantara makna nasikh adalah: 

1. Menghapuskan (izalah), firman Allah Ta'ala: 
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ۬ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَـٰنُ فِىٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلۡقِى ٱلشَّيۡطَـٰنُ ثُمَّ يُحۡڪِمُ ٱللَّهُ ءَايَـٰتِهِۦ‌ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ۬
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak [pula] seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (52(Q.S. Al-Hajj: 52).
2. Mengganti (tabdil), firman Allah: 
وَإِذَا بَدَّلۡنَآ ءَايَةً۬ مَّڪَانَ ءَايَةٍ۬‌ۙ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوٓاْ إِنَّمَآ أَنتَ مُفۡتَرِۭ‌ۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ
Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. (101)(Q.S. An-Nahl: 101).
3. Mengalihkan / mengubah (tahwil), seperti mengalihkan warisan seseorang kepada orang lain.
4. Memindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Diantaranya memindahkan (transcrib) suatu kitab. Dalam pengertian ini tidak mungkin terjadi di dalam al-Qur'an.


3. Lingkup Nasakh

  1. Nasakh termasuk salah satu hal yang dikhususkan Allah kepada umat ini karena beberapa hikmah, diantaranya untuk memudahkan. Para ulama sepakat tentang adanya nasakh, tetapi orang-orang Yahudi mengingkarinya karena dianggap sebagai bada' (sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui Allah) seperti orang yang mengemukakan pendapat kemudian baru tampak baginya kesalahannya. Anggapan ini jelas salah, karena nasakh itu berarti penjelasan tentang batas waktu suatu hukum seperti halnya menghidupkan  setelah mematikan atau sebaliknya atau sakit sesudah sehat dan sebaliknya, atau miskin sesudah kaya dan sebaliknya. Kesemuanya ini bukan bada'. 
  2. Sebagian pendapat mengatakan, bahwa al-Qur'an tidak dapat dinasakh kecuali dengan al-Qur'an, karena firman Allah Ta'la:   مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٍ۬ مِّنۡہَآ أَوۡ مِثۡلِهَآ‌ۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ Artinya: Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan [manusia] lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S. Al-Baqarah: 106).
  3. Pendapat yang lain mengatakan, bahkan al-Qur'an dapat dinasakh oleh al-Sunnah karena keduanya sama-sama dari Allah, sebagaimana firmanNya:  وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ Artinya: dan tiadalah yang diucapkannya itu [Al Qur’an] menurut kemauan hawa nafsunya.(Q.S. An-Najm: 3). Sebagai contohnya ialah ayat wasiat: كُتِبَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ إِن تَرَكَ خَيۡرًا ٱلۡوَصِيَّةُ لِلۡوَٲلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ‌ۖ حَقًّا عَلَى ٱلۡمُتَّقِينَ artinya: Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan [tanda-tanda] maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf , [ini adalah] kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.(Q.S. Al-Baqarah: 180), ayat ini dihapuskan oleh hadits Nabi saw.: "Ketahuilah bahwa tidak ada wasiat bagi ahli waris." Dikatakan: Apabila as-Sunnah menasakhkan, maka harus dengan perintah Allah melalui wahyu. Jika dengan ijtihad maka tidak dapat menasakhkan. Imam Syafi'i berkata: "Apabila ada ayat al-Qur'an yang dinasakh oleh as-Sunnah maka pasti ada ayat lain yang menguatkannya, dan apabila as-Sunnah yang dinasakhkan al-Qur'an pasti ada as-Sunnah lain yang menguatkan penasakah itu.
  4. Nasakh tidak terjadi kecuali menyangkut perintah dan larangan kendatipun lafadz khabar (berita), khabar tidak berarti thalab (perintah atau larangan) tidak dapat kemasukan nasakh, diantaranya adalah ayat ancaman dan janji.

4. Beberapa bentuk nasakh:

1. Menasakh apa yang diperintahkan sebelum pelaksanaannya, seperti ayat najwa: 
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نَـٰجَيۡتُمُ ٱلرَّسُولَ فَقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىۡ نَجۡوَٮٰكُمۡ صَدَقَةً۬‌ۚ ذَٲلِكَ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ وَأَطۡهَرُ‌ۚ فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ 
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah [kepada orang miskin] sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh [yang akan disedekahkan] maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S.Al-Mujadilah: 12).
2. Menasakhkan apa yang pernah diperintahkan secara umum, seperti menasakhkan menghadap ke Baitul Maqdis dengan ka'bah (Q.S. Al-Baqarah: 142-145) dan puasa 'Asyura dengan Ramadhan (Q.S. Al-Baqarah: 183-185).
3. Apa yang pernah diperintahkan karena adanya sebab kemudian sebab itu tidak ada, seperti perintah bersabar dan mema'afkan ketika dalam keadaan lemah dan sedikit, kemudian dinasakhkan dengan kewajiban perang. pada hakekatnya ini tidak termasuk nasakh, tetapi termasuk mansa' (penundaan) sebagaimana firman Allah :au na sa'uha (atau kami mengakhirkannya): 
مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٍ۬ مِّنۡہَآ أَوۡ مِثۡلِهَآ‌ۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan [manusia] lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S. Al-Baqarah: 106), dalam qira'at Hafas dari 'Ashim dibaca nunshiha-.
Jadi (sesuai prinsip mansa') perintah berperang ditunda sampai kaum Muslimin menjadi kuat. Selama dalam keadaan lemah mereka wajib bersabar menghadapi gangguan. Dengan demikian maka nyatalah kesalahan orang yang mengatakan bahwa ayat tersebut (perintah bersabar) dinasakhkan oleh ayat pedang (perintah perang). masing-masing dari ayat tersebut harus dilaksanakan pada suatu waktu karena sebab yang mengharuskan hukumnya.

5. Tiga Macam Nasakh Dalam Al-Qur'an

1. Ayat yang dinasakhkan tilawah dan hukumnya, seperti riwayat dari Aisyah yang mengatakan: "Diantara ayat yang pernah diturunkan ialah: "Sepuluh susuan yang dikenal" kemudian dipauskan dengan "lima susuan", ketika Rasulullah saw. nash tersebut (sepuluh susuan) termasuk apa yang dibaca dari al-Qur'an." (H.R. Bukhari dan Muslim).
2. Ayat yang dinasakhkan hukumnya tetapi tilawahnya  tetap. Bentuk nasakh inilah yang banyak dibahas oleh para ulama di dalam berbagai kitabnya. Tetapi nasakh ini pun pada hakikatnya sangat sedikit adanya.
Jika ditanyakan: apa hikmah penghapusan hukumnya dan membiarkan bacaannya? Pertanyaan ini dapat dijawab dari 2 segi. Pertama, bahwa al-Qur'an di samping dibaca untuk diketahui hukumnya dan diamalkan, juga dibaca karena ia kalam Allah yang dengan membacanya akan mendapatkan pahala, maka dibiarkannya tilawah tersebut karena hikmah ini. Kedua, bahwa nasakh pada galibnya adalah untuk meringankan, maka dibiarkannya tilawah tersebut untuk mengingatkan ni'mat yang diberikannya itu.
3. Ayat yang dinasakhkan tilawahnya tetapi hukumnya tidak. lalu apa hikmahnya? mengapa tidak dibiarkan juga tilawahnya agar dengan demikian akan didapat pahala pelaksanaan dan pembacaannya ? Jawabannya ialah untuk membuktikan sejauh mana keta'atan umat ini dalam berkorban tanpa banyak bertanya sebagaimana Ibrahim a.s. segera melaksanakan penyembelihan anaknya hanya melalui mimpi.

6. Bagaimana Mengetahui Nasakh?

Nasakh diketahui melalui riwayat yang tegas dari Rasululah saw. atau dari seorang shahabi yang berkata: Ayat ini menasakhakan ayat itu. Kadang-kadang dengan nasakh ini pertentangan antara dua ayat dapat diselesaikan, tentu saja dengan mengetahui sejarah sehingga dapat diketahui mana yang lebih awal atau akhir turunnya. Dalam mengetahui nasakh tidak boleh bersandar kepada para mufassirin atau ijtihad para mujtahidin tanpa didasarkan kepada nash yang shahih. Sebab nasakh ini berarti mencabut suatu hukum dan menetapkan hukum yang lain yang telah ditetapkan di zaman Rasulullah saw. Karena itu ia harus berdasarkan kepada riwayat dan sejarah yang shahih, tidak boleh berdasarkan kepada pendapat dan ijtihad.
Untuk mengetahui ayat-ayat mana saja yang dimansukh, silakan tunggu artikel berikutnya: Daftar ayat-ayat yang nasikh dan mansukh.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Apa Itu al-Qur'an hal. 103-17m Imam As-Suyuthi, Penerbit: Gema Insani Pers.
Tafsir Jalalain jilid 4, hal. 2815-1817, Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Penerbit: Sinar Baru Algensindo.

Tidak ada komentar: