AYO MENGHAFAL AL-QUR'AN: Mari bergabung menjadi penghafal Al-Qur'an dalam grup whatsapp dengan metode MANDIRI: 1.Sistematis, 2. Informatif 3. Simpel; Info & Pendaftaran Ikhwan klik MUSHAF1 dan Akhawat klik MUSHAFAH 1KONSULTASI WARIS ISLAM. Butuh solusi masalah waris keluarga online dan cepat ? klik KONSULTASI

Sejarah Penafsiran Al-Qur'an Di Masa Nabi, Shahabat Dan Generasi Berikutnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Tafsir artinya penjelasan pengungkapan. Ta'wil berasal dari aul yakni kembali; seolah-olah memalingkan  ayat kepada makna yang dikandungnya. Abu Thalib al-Tsa'laby berkata: Tafsir ialah menjelaskan status lafadz, apakah ia hakikat atau majaz (kiasan), seperti menafsirkan ash-shiraath dengan ath-thariq (jalan), Sh-shaiyyih dengan al-mathar (hujan). Ta'wil ialah menafsirkan bathin lafadz, yaitu mengungkapkan tentang hakekat. sementara Mufassir  (Ahli tafsir) adalah orang yang memiliki kapabilitas sempurna yang dengannya ia mengetahui maksud Allah ta‘ala dalam Al-Quran sesuai dengan kemampuannya. Ia melatih dirinya di atas manhaj para mufassir dengan mengetahui banyak pendapat mengenai tafsir Kitâbullâh. Selain itu, ia menerapkan tafsir tersebut baik dengan mengajarkannya atau menuliskannya.

1. Penafsiran Al-Qur'an di Masa Nabi saw.


Walaupun bangsa Arab pada waktu itu masih buta huruf, tapi mereka mempunyai ingatan yang sangat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan syair-syair dari para pujangga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dan lain sebagainya adalah dengan hafalan semata. Karena hal inilah Nabi mengambil suatu cara praktis yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan dan memelihara Al Qur'an.

Setiap ayat yang diturunkan, Nabi menyuruh menghafalnya, dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelapah kurma, dan apa saja yang bisa dituliskan. Nabi menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi mengadakan peraturan, yaitu Al Qur'an saja yang boleh dituliskan, selain dari Al Qur'an, Hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi dilarang untuk dituliskan. Larangan ini dengan maksud agar Al Qur'an itu terpelihara, jangan dicampur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi.

Pada masa nabi, masa diturunkannya Al Qur’an kepadanya dan beliau sendiri berfungsi sebagai mubayyin, the first enterpreter (pemberi penjelasan) kepada para sahabat-sahabatnya tentang kandungan dari pada ayat-ayat Al Qur’an khususnya menyangkut ayat-ayat yang masih samar dan tidak bisa di fahami oleh mereka, sebagaimana telah di gambarkan dalam Al Qur’an:

بِٱلۡبَيِّنَـٰتِ وَٱلزُّبُرِ‌ۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّڪۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡہِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

keterangan-keterangan [mu’jizat] dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (QS 16:44).

2. Penafsiran Al Qur’an zaman Sahabat

Setelah Rasulullah wafat, para sahabat terpaksa melakukan ijtihad, terutama mereka yang mempunyai kemampuan seperti Ali bin Ali Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab dan Ibnu Mas’ud. Para sahabat dalam memahami Al Qur’an bedasarkan pengetahuan global karena Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka, sedang pemahaman mereka tentang detail-detailnya atas Al Qur’an memerlukan penjelasan dari Nabi berupa hadis-hadis Nabi. 
Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Qur’an adalah Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Ubai bin Ka’ab Zaid bin Sabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dan Aisyah.
  • Ibnu Taimiyah berkata: "Harus diketahui bahwa nabi saw. telah menjelaskan kepada para sahabatnya makna-makna al-Qur'an sebagaimana ia menjelaskan kepada mereka lafadz-lafadznya. Firman Allah Ta'ala: "Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (QS 16:44) mencakup penjelasan makna dan lafadznya.
  • Abdul Rahman al-Salmy berkata: "Telah menceritakan kepada kami orang-orang yang biasa membaca al-Qur'an, seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas'ud dan lainnya, bahwa mereka apabila belajar dari Rasulullah saw. tidak lebih dari sepuluh ayat sehingga mereka mengetahui ilmu yang terkandung di dalamnya dan mengamalkannya. Mereka berkata: "Kami belajar al-Qur'an, ilmu dan amal sekaligus". karena itu mereka kadang-kadang memerlukan waktu lama dalam menghafal satu surat. Diantaranya Ibnu Umar pernah menghafal surat al-Baqarah selama delapan tahun. Yang demikian itu karena Allah Ta'ala berfirman: كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَيۡكَ مُبَـٰرَكٌ۬ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(Q.S. Shad: 29). 
  • Tidak mungkin melakukan tadabur al-Qur'an tanpa memahami makna-maknanya. Biasanya orang-orang tidak akan dapat membaca sebuah kitab tentang kedokteran dan matematika tanpa mendapatkan penjelasannya, maka apalagi dengan al-Qur'an yang merupakan Kitab penyelamat di dunia dan akhirat. Karena itu jarang sekali terjadi perselisihan di kalangan sahabat mengenai penafsiran al-Qur'an.  أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ‌ۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَـٰفً۬ا ڪَثِيرً۬ا "Maka apakah mereka tidak mentadaburkan al-Qur'an?" (Q.S. An-Nisa: 82).

3. Ciri dan Dasar Penafsiran di Masa Sahabat.

  • Mereka tidak menafsirkan Al Qur’an secara keseluruhan. 
  • Perbedaan penafsiran Al Qur’an di kalangan mereka relatif amat sedikit.
  • Penafsiran yang dilakukan para sahabat umumnya lebih menekankan pendekatan pada al-ma’na al-ijmali (pengertian kosa kata secara global).
  • Membatasi diri pada penjelasan makna-makna lughah (etimologis).
  • Jarang menginstinbathkan hukum-hukum fiqhiyah dari ayat-ayat Al Qur’an. 
  • Tafsir Al Qur’an sama sekali belum dibukukan.
  • Pada masa sahabat, penafsiran umumnya dilakukan dengan menguraikan hadist

4. . Sebab-sebab Perbedaan Penafsiran zaman Sahabat

Disamping perbedaan tingkatan pengetahuan serta kecerdasan para sahabat itu sendiri. Sebab-sebab yang lain menyebabkan perbedaan tingkatan para sahabat dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an ialah: 
  1. Pengetahuan sastera Arab. Sekalipun para sahabat orang-orang Arab dan berbahasa Arab, tetapi pengetahuan mereka tentang bahasa Arab berbeda-beda, seperti berbeda-bedanya pengetahuan para sahabat tentang sastra Arab, gaya bahasa Arab, adat istiadat dan sastra Arab Jahiliyah, kata-kata yang terdapat dalam Al Qur’an dan sebagainya. sehingga tingkatan mereka dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an berbeda-beda pula.
  2. Kebersamaan dengan Nabi. Ada shababat yang sering mendampingi Nabi Muhammad saw, sehingga banyak mengetahui sebab-sebab ayat-ayat Al Qur’an diturunkan dan ada pula yang jarang mendampingi beliau. Pengetahuan tentang sebab-sebab Al Qur’an diturunkan itu, sangat diperlukan untuk mentafsirkan Al Qur’an. Kerana itu sahabat-sahabat yang banyak pengetahuan mereka tentang sebab Al Qur’an diturunkan itu, lebih mampu mentafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dibandingakan dengan yang lain. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut: Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab telah mengangkat Qudamah sebagai gabernur Bahrain. Dalam suatu peristiwa datanglah Jarud mengadu kepada Khalifah Umar, bahwa Qudamah telah meminum khamar dan mabuk. Umar berkata: "Siapakah orang lain yang ikut menyaksikan perbuatan tersebut?" kata Jarud: "Abu Hurairah telah menyaksikan apa yang telah kukatakan". Khalifah Umar memanggil Qudamah dan mengatakan: "‘Ya Qudamah! Aku akan mendera engkau!". Lalu berkata Qudamah: "Seandainya aku meminum khamar sebagaimana yang mereka katakan, tidak ada suatu alasan pun bagi engkau untuk mendera". Umar bertanya: "Kenapa?" jawab Qudamah: Kerana Allah telah berfirman dalam surat (5) Al Maaidah ayat 93Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan rnengerjakan amalan yang saleh, kerana memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Sedang saya adalah orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, kemudian bertakwa dan beriman, saya ikut bersama Nabi Muhammad saw. dalam perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq dan peperangan yang lain. Umar berkata: "Apakah tidak ada diantara kamu sekalian yang akan membantah perkataan Qudamah?". Berkata lbnu Abbas: "Sesungguhnya ayat 93 surah (5) Al Ma-aidah diturunkan sebagai melindungi umat di masa sebelum ayat 90 ini diturunkan, karena Allah berfirman: Surat (5) Al Maa-idah ayat 90 (yang bermaksud): "Hal orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum khamar, berjudi. (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji; termasuk perbuatan syaitan. Kerana itu jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar mendapat keberuntungan (kejayaan)". Berkata Umar: "Benarlah lbnu Abbas." Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa lbnu Abbas lebih mengetahui sebab-sebab dlturunkannya ayat 93 surah (5) Al Maa-idah dibanding dengan Qudamah. Sebab menurut riwayat Ibnu Abbas, bahwa setelah ayat 90 surat (5) Al Maa'idah diturunkan, sahabat-sahabat saling menanyakan tentang keadaan para sahabat yang telah meninggal, padahal mereka dahulu sering meminum khamar seperti Sayidina Hamzah, paman Nabi yang gugur sebagai syuhadaa pada perang Uhud. Ada sahabat yang mengatakan bahawa Hamzah tetap berdosa kerana perbuatannya yang telah lalu itu. kerana itu turunlah ayat 93 surah (5) Al Maa-idah, yang menyatakan bahawa umat Islam yang meninggal sebelum turunnya ayat 90 surah (5) Al Maa'idah tidak berdosa kerana meminum khamar itu, tetapi umat sekarang berdosa meminumnya. 
  3. Pengetahuan riwayat Arab. Perbedaan tingkat pengetahuan para sahabat tentang adat istiadat, perkataan dan perbuatan Arab Jahiliyah. Para sahabat yang mengetahui haji di masa Jahiliyah akan lebih dapat memahami ayat-ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan haji, dibanding dengan para sahabat yang kurang tahu.
  4. Pengetahuan TIngkah Yahudi dan Nasrani. Perbedaan tingkat pengetahuan para sahabat tentang yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani di Jaziratul Arab, pada waktu suatu ayat Al Qur’an diturunkan. Sebab suatu ayat diturunkan ada yang berhubungan dengan penolakan atau sanggahan terhadap perbuatan-perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu. 

5. Sumber Penafsiran zaman Sahabat

1. Periwayatan Rasulullah (Hadits)
Pada saat Al Qur’an diturunkan, Rasul saw., yang berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan kandungan Al Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya. Seperti yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya. Penjelasan Rasul tersebut terus dijadikan pedoman untuk menafsirkan Al Qur’an, baik yang bersumber dari penjelasan Al Qur’an itu sendiri maupun dari keterangan dalam Hadis
2. Ijtihad Sahabat.
Metode penafsiran sahabat-sahabat Nabi saw., ditemukan bahwa pada dasarnya mereka merujuk kepada penggunaan bahasa dan syair-syair Arab. Cukup banyak contoh yang dapat dikemukakan tentang hal ini. Misalnya, Umar ibn Al-Khaththab, pernah bertanya tentang arti takhawwuf dalam firman Allah: Auw ya'khuzahum 'ala takhawwuf (QS 16:47). Seorang Arab dari kabilah Huzail menjelaskan bahwa artinya adalah "pengurangan". Arti ini berdasarkan penggunaan bahasa yang dibuktikan dengan syair pra-Islam. Umar ketika itu puas dan menganjurkan untuk mempelajari syair-syair tersebut dalam rangka memahami Al Qur’an.
Contoh lain, ijtihad yang dilakukan oleh sahabat Ibnu Abbas dalam menafsiri ayat Al Qur’an: “Dialah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain mu-tasyaabihaat.” (QS 3:7).
Menurut Ibnu Abbas bahwa yang di maksud dengan ayat muhkamat adalah nasikh, halal dan haram, denda-denda, kewajiban, apa yang kita yakini dan kita laksanakan, yang terdapat dalam Al Qur’an. Adapun mutasyabihat yaitu mansukh dalam Al Qur’an, lafadz yang harus didahulukan,dan lafadz yang harus di akhirkan, I’tibar(contoh-contoh), sumpah, dan sesuatu yang telah kita yakini tetapi tidak di kerjakan. 
3.Israiliyat
Kata Israiliyat” merupakan bentuk jamak dari kata tunggal “Israiliyat” yang merupakan kata yang nisbahkan pada kata Israil berasal dari bahasa Ibrani, “Isra” berarti hamba dan”Il” berarti Tuhan. Dalam Al Qur’an nama “Israil” dipakai sebagai nama bagi Nabi Yaqub yang kepada beliau bangsa Yahudi dinisbahkan, dalam hal ini mereka disebut bani Isra’il.
Secara terminologi, ‘Isra’iliyat” merupakan semua cerita lama yang masuk kedalam tafsir yang bersumber dari Yahudi dan Nasrani. Bahkan sebagian ulama telah memperluas makna “Isra’iliyat” dengan cerita yang dimasukkan oleh musuh-musuh Islam, baik yang bersumber dari Yahudi maupun yang bersumber dari orang lain, baik menyangkut agama mereka maupun tidak. Dari beberapa pendapat para mufassir, tidaklah mengisyaratkan adanya larangan atau keharusan dalam mempergunakan keterangan-keterangan Isra’iliat sebagai sumber tafsir. Artinya, boleh bila tidak bertentangan dengan Al Qur’an, sunnah dan ra’yu (logika). Ibnu Abbas, misalnya meriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar, tafsir al-raqim dalam Q.s Al-Kahfi (18) : 9 dan tafsir sidrah al-muntaha dalam Qs. Al-Najm (53): 14. Demikian pula ‘Abdullah Ibn Amr diriwayatkan mengemukakan naskah-naskah dari ahli kitab dalam perang Yarmuk dan mengambil riwayat dari naskah tersebut dalam menafsirkan Al Qur’an.

6.Tinggkatan Mufassirin

  • Mufassir yang terkenal dari kalangan sahabat ada sepuluh; yakni khalifah yang empat, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy'ari dan Abdullah bin al-ZubairDiantara khalifah yang empat, Ali bin Abu Thalib adalah yang paling banyak menjadi sumber riwayat. Ini karena ketiga khalifah tersebut lebih dahulu meninggalkannya. Hal ini juga menjadi sebab kenapa Abu Bakar sedikit sekali meriwayatkan hadits.
  • Mu'ammar meriwayatkan dari Wahab bin Abdullah dari Ubay al-Thufail, ia berkata: Aku pernah mendengar Ali berkhutbah, ia berkata: "Tanyalah kepadaku, demi Allah kamu tidak bertanya kepadaku tentang sesuatu melainkan aku pasti menjawabnya; tanyalah kepadaku tentang kitab Allah, demi Allah tidak ada satu pun ayat kecuali aku mengetahui apakah ia turun pada waktu malam atau siang? di lembah atau di gunung?"
  • Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang tafsir ayat yang jumlahnya banyak sekali dan dari jalan yang berlainan. Para tabi'in mengambil tafsir dan riwayat dari para sahabat. Berkata Sofyan: Ambillah tafsir dari empat orang: Sa'id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah (mantan budak Ibnu Abbas)  dan ad-Dahak (Ibnu Muzahim al-Balkhy).
  • Kemudian setelah itu muncullah para tokoh ulama dengan berbagai karya ilmiah dalam berbagai bidang dan cabang ilmu keislaman. Masing-masing mempunyai kecenderungan tertentu dalam tafsirnya sesuai dengan keahliannya. Seorang ahli nahwu misalnya, dapat anda lihat dalam tafsirnya hanya menitikberatkan pembahasannya kepada masalah-masalah yang ada kaitannya dengan nahwu seperti i'rab, kedudukan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Diantara tokohnya: Al-Zujjaj, al-Wahidy di dalam kitabnya al-Basith, dan Abu Hayyan di dalam al-Bahru wa (n)NahwuSeorang ahli sejarah, dalam menafsirkan al-Qur'an ia hanya memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kisah-kisah dan pemberitaan orang-orang terdahulu baik bernilai shahih ataupun bathil, seperti al-Tsa'laby dan lainnya. Seorang ahli fikih, hanya mementingkan masalah-masalah fikiyah seperti thaharah dan lain sebagainya. Ini misalnya dapat kita baca dalam tafsir al-QurthubySeorang ahli logika, hanya mementingkan masalah-masalah yang berkaitan dengan perkataan para bijak bestari, filsuf dan lainnya, yang seringkali bertentangan dengan al-Qur'an. Ini misalnya dapat kita baca dalam tafsir Fakhruddin ar-Razy.
Seorang penafsir al-Qur'an diharuskan komit dengan kaidah-kaidah yang telah dibuat para ulama islam menyangkut ilmu ini, karena dikhawatirkan terjerumus ke dalam apa yang diperingatkan Nabi saw.: "Sesungguhnya diantara umatku ada suatu kaum yang mengupasnya (Al-Qur'an) seperti mengupas tamar, mereka menta'wilkannya tidak pada tempat penta'wilannya." (Dikeluarkan oleh Abu ya'la dan lainnya dari Hudzaifah).
Sebarkan !!! Insyaallah bermanfaat.
                       ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”     
Sumber:
Apa Itu Al-Qur'an, hal.99-102, Imam As-Suyuti, Penerbit: Gema Insani pers.
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=701386119930968&id=701382129931367

1 komentar:

Mbak Burdah mengatakan...

terimakasih,,, alhamdulillah tugas nya bisa selasai,,,,...