AYO MENGHAFAL AL-QUR'AN: Mari bergabung menjadi penghafal Al-Qur'an dalam grup whatsapp dengan metode MANDIRI: 1.Sistematis, 2. Informatif 3. Simpel; Info & Pendaftaran Ikhwan klik MUSHAF1 dan Akhawat klik MUSHAFAH 1KONSULTASI WARIS ISLAM. Butuh solusi masalah waris keluarga online dan cepat ? klik KONSULTASI

Pengertian Ibadah, Ibadah Mahdhah dan Jenis-Jenisnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir Kata "Ibadah"
Kata Ibadah diambil dari kata ‘ abada, ya’budu, ‘abdan, fahuwa ‘aabidun. ‘Abid, berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, dirinya sendiri milik tuannya, sehingga karenanya seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh keridhaan tuannya dan menghindarkan murkanya. Manusia adalah hamba Allah “‘Ibaadullaah” jiwa raga hanya milik Allah, hidup matinya di tangan Allah, rizki miskin-kayanya ketentuan Allah, dan diciptakan hanya untuk  beribadah atau menghamba kepada-Nya:
وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون
Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku (QS.adz-Dzariyat : 56).
**********************************************************************
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 
Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah: 5).
**********************************************************************
Menurut bahasa  kata ibadah berarti patuh , tunduk. Ubudyah artinya tunduk dan merendahkan diri.  Menurut Al’azhari, kata ibadah tidak dapat disebutkan kecuali untuk kepatuhan kepada Allah. Di dalam syara', ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah :
1. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya.
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
3. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta'ala , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

1. Definisi Ibadah Menurut Para Ulama:

  1. Jurjani mengatakan ;Ibadah ialah perbuatan yang dilakukan oleh mukallaf , tidak menurut hawa nafsunya, untuk memuliakan Tuhanmu.
  2. Ibnu katsir :Himpunan cinta, ketundukan, dan rasa takut yang sempurna.
  3. Ibnu Taimiyah :Didalam kitabnya al-‘ubudiyah , memberikan penjelasan yang cukup luas tentang pengertian ibadah. Pada dasarnya ibadah berarti merendahkan diri (al-dzull). Akan tetapi , ibadah yang diperintahkan dalam agama itu bukan sekedar ketaatan atau perendahan diri kepada Allah. Ibadah mengandung pengertian al-dzull dan hubb, dalam tingkatannya yang paling sempurna patuh kepada seseorang tetapi tidak mencintainya, tidak disebut ibadah ; cinta tanpa kepatuhanpun bukan ibadah. Jadi cinta atau patuh saja belum cukup untuk mewujudkan pengertian ibadah. Seseorang belum dapat dikatakan beribadah kepada Allah kecuali apabila ia mencintai Allah, lebih dari cintanya kepada apapun dan memuliakan-Nya lebih dari segala yang lain-Nya bahkan ia harus meyakini tidak ada yang berhak atas cinta dan kepatuhan yang sempurna kecuali Allah.

2. Pembagian Ibadah

1. Ibadah Mahdhah,  artinya  penghambaan yang murni hanya merupakan hubung an antara hamba dengan Allah secara langsung. ‘Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip:
  • Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran maupun as- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.
  • Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh: وماارسلنا من رسول الا ليطاع باذن الله "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah…"(QS. An-Nisa: 64). وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا  "Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan apa yang dilarang, maka tinggalkanlah"( QS. Al-Hasyr: 7). Nabi bersabda: صلوا كما رايتمونى اصلى .رواه البخاري "Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat." Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul saw., maka dikategorikan “Muhdatsatul umur” perkara meng-ada-ada, yang populer disebut bid’ah.
  • Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at, atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.
  • Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi.
Ibadah (mahdhah) ditujukan untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan Allah, agar kita memiliki keimanan yang benar, lurus dan kuat, jauh syirik , khurafat, tahayul dan perdukunan serta agar kehidupan kita terjaga dari berbagai hal yang merusak, menyesatkan, mencelakakan, dan mendapatkan ketenangan batin/hati.
Contoh ibadah mahdhah: 1. Wudhu, 2. Tayammum, 3. Mandi hadats, 4. Adzan, 5. Iqamat, 6. Shalat, 7. Membaca al-Quran, 8. I’tikaf, 9. Shiyam ( Puasa ), 10. Haji, 11. Umrah, 12. Tajhiz al- Janazah.

2. Ibadah Ghairu Mahdhah, (tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan  hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya . Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4:
  1. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diseleng garakan.
  2. Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebutnya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.
  3. Bersifat rasional,  ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.
  4. Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.

3. Jenis-Jenis Ibadah

  1. Ibadah Qalbiyah (yang berkaitan dengan hati); meliputi:Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut).  
  2. Ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati); meliputi: tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati. 
  3. Ibadah Badaniyah Qalbiyah (fisik dan hati); meliputi: shalat, zakat, haji, dan jihad  Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
http://polimengo1.blogspot.com/
http://umayonline.wordpress.com/2008/09/15/ibadah-mahdhah-ghairu-mhadhah/

Tidak ada komentar: