AYO MENGHAFAL AL-QUR'AN: Mari bergabung menjadi penghafal Al-Qur'an dalam grup whatsapp dengan metode MANDIRI: 1.Sistematis, 2. Informatif 3. Simpel; Info & Pendaftaran Ikhwan klik MUSHAF1 dan Akhawat klik MUSHAFAH 1KONSULTASI WARIS ISLAM. Butuh solusi masalah waris keluarga online dan cepat ? klik KONSULTASI

Pengertian Al-Haudh (Telaga) Para Nabi; Bentuk, Tempat, Luas dan Sumber Airnya

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Lafadz al-Haudh ( الحوض ) secara bahasa (etomologi) adalah jam’u (kumpulan). dikatakan حا ض الماء يحو ضح artinya menghimpun (mengumpulkan) air. Kata haudh juga digunakan untuk tempat berkumpulnya air. Secara istilah syar’i (terminologi), al-haudh  maknanya telaga air yang turun dari sungai surga pada hari Kiamat di Mauqif (Padang mahsyar) yang diperuntukkan bagi Nabi saw. sebagaiamana yang ditunjukkan oleh Hadits-hadits mutawattir dan berdasarkan kesepakatan ulama Ahlus-Sunnah wal Jama’ah.


1. Telaga Nabi saw.

Rasulullah saw.bersabda: 
إني فرطكم على الحوض (Innii farathukum 'alal haudh). Artinya: “Sesungguhnya aku telah mendahului kalian menuju al –haudh....”[1].
Setiap Nabi memiliki telaga. Namun telaga Nabi Muhammad saw. adalah yang paling besar, paling mulia, dan paling indah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw.: 
                                          إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا، وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً، وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً
“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki al-haudh (telaga), mereka membanggakan diri, siapa diantara mereka yang paling banyak peminumnya (pengikutnya). Dan aku berharap, akulah yang paling banyak pengikutnya.” [2]. 
Telaga yang diperuntukkan bagi Rasulullah saw. airnya lebih putih daripada susu, lebih manis dari madu, lebih harum daripada minyak kesturi, panjang dan lebarnya sejauh perjalanan sebulan, bejana-bejananya seindah dan sebanyak bintang di langit. Maka kaum Mukminin dari ummat beliau akan meminum seteguk air dari haudh (telaga) ini, maka ia tidak akan merasa haus lagi setelah itu selamanya. [3]
Nabi saw. bersabda: 
Telagaku (panjang dan lebarnya) satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada kesturi, berjananya sebanyak bintang di langit, siapa yang minum darinya, ia tidak akan merasa haus selamanya.” [4].


2. Pengetahuan Tentang al-Haudh

1. Dari sisi bentuk dan ukurannya 
  • Di dalam riwayat-riwayat hadits disebutkan bahwa Telaga (Al Haudh) itu berbentuk segi empat (murobba’). Panjang sisi-sisinya sama. Hal itu adalah sebagaimana dalam Hadits حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ, وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ Artinya: “Telagaku itu sejarak satu bulan, tepi-tepinya juga sejarak itu.”[5].  Yang dimaksudkan Hadits tersebut menurut penjelasan para ‘Ulama Ahlus Sunnah adalah bahwa panjang sisi telaga itu adalah sejarak perjalanan dengan onta (– Yang bisa dihitung secara kasar, bila onta berjalan 1 jam bisa menempuh rata-rata 5 Km,  dan setiap hari onta berjalan selama 10 jam, maka setiap hari onta tersebut bisa menempuh jarak 50 Km. Dalam sebulan kira-kira bisa menempuh 30 X 50 Km = 1.500 Km. Jadi kira-kira panjang Telaga Rasuulullah saw. adalah sekitar 1.500 Km dan lebarnya adalah sama dengan panjangnya – pen.).
  • Dalam riwayat lain disebutkan bahwa panjang sisi-sisi Telaga Rasuulullah saw. sama dengan jarak dari Makkah ke Baitul Maqdis.   bahwa Nabi saw. bersabda  إِنَّ لِي حَوْضًا طُولُهُ مَا بَيْنَ الْكَعْبَةِ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ وَإِنِّي لأَكْثَرُ الأَنْبِيَاءِ تَبَعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ  Artinya: “Sesungguhnya panjang telagaku antara Makkah ke Baitul Maqdis. Lebih putih dari susu. Bejananya sebanyak bilangan bintang di langit. Sungguh aku diantara para Nabi yang paling banyak pengikutnya di hari Kiamat.”[6]. Dan dalam kenyataannya setelah dihitung ukuran jarak antara Madinah sampai Baitul Maqdis adalah berjarak sekitar 1.500 Km.
  • Kemudian dalam Hadits yang lain juga dikatakan bahwa panjang Telaga Rasuulullah saw. itu adalah sama dengan jarak antara Madinah sampai Oman (kira-kira 1.500 Km). Atau sejauh antara Madinah dengan Shon’a (Yaman). Bahwa Rasulullah saw. bersabda: إِنَّ قَدْرَ حَوْضِي كَمَا بَيْنَ أَيْلَةَ وَصَنْعَاءَ مِنَ الْيَمَنِ وَإِنَّ فِيهِ مِنَ الأَبَارِيقِ كَعَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ  Artinya: “Sesungguhnya ukuran telagaku sebagaimana dari Ailah (Palestina) dan Shon’a (Yaman). Padanya terdapat bejana sebanyak bilangan bintang di langit.”[7].
2)  Tempat Telaga (Al Haudh) berada
Tempat Al Haudh adalah berada di atas bumi yang telah ditukar (– jadi bukan diatas bumi yang kita diami di dunia ini – pen.). Sesuai dengan QS. Ibrahim (14) ayat 48 bahwa  hari itu hamparan tanahnya sudah diganti oleh Allah dengan hamparan yang baru, sesuai dengan keadaan Hari Kiamat (di Padang Mahsyar), Telaga (Al Haudh) itu akan berada di atas permukaan tanah yang berbeda dengan permukaan bumi yang kita diami sekarang.
Perhatikanlah firman Allah Ta'ala dalam QS. Ibrahim (14) ayat 48 berikut ini:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الأَرْضُ غَيْرَ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُواْ للّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ 
Artinya: “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
3) Telaga (Al Haudh) ditinjau dari sisi Bejana-nya
  • Telaga Rasuulullah saw. paling banyak pengunjung yang akan mereguk airnya, maka gelas-gelas yang tersedia di sana pun amatlah banyak. Hal ini adalah sebagaimana  Rasuulullah saw bersabda: عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا Artinya: “Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan minyak misik. Bejananya bagaikan bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa dahaga selamanya!” [8].
  • Juga  Rasuulullah saw. bersabda, أَكْوَابُهُ مِثْلُ نُجُومِ السَّمَاء Artinya: Gelas-gelas telagaku sebanyak bintang-bintang di langit.[9]. Para ‘Ulama Ahlus Sunnah meninjau kata sama dengan bintang-bintang di langit” itu adalah dari segi banyaknya dan dari segi kualitas. Sebagian ‘Ulama Ahlus Sunnah lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “sama dengan bintang-bintang di langit” adalah banyaknya (jumlahnya). Dengan demikian berarti bahwa banyaknya gelas / bejana di Telaga (Al Haudh) adalah sama dengan banyaknya bilangan bintang di langit. Semua itu merupakan tanda kebesaran Allah Ta'ala. Sementara ada pula pendapat ‘Ulama Ahlus Sunnah yang lainnya bahwa yang dimaksud dengan “sama dengan bintang-bintang di langit” adalah dari sisi cemerlangnya, jernihnya, bersinarnya, terangnya adalah seterang bintang-bintang di langit. Allahu a'lam.
4)  Telaga Al Haudh ditinjau dari sisi airnya    
Bahwa Rasuulullah saw. bersabda:
الكوثر نهر في الجنة حافتاه من ذهب ومجراه على الدر والياقوت تربته أطيب من المسك وماؤه أحلى من العسل وأبيض من الثلج 
Artinya: “Al Kautsar adalah sungai di surga. Tepiannya terbuat dari emas. Salurannya adalah mutiara dan batu permata. Tanahnya lebih harum dari misik. Airnya lebih manis dari madu dan lebih putih dari salju.” [10].
Kemudian dalam Hadits juga dijelaskan dengan lafadz : أَبْيَضُ مِنَ الْوَرِقِ 
Artinya: “… lebih putih daripada perak.” [11].
Dan dalam  sebuah hadits Rasuulullah saw. bersabda:
عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا
Artinya:
“Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan minyak misik. Bejananya bagaikan bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa dahaga selamanya!” [12].
Juga dalam Hadits yang lain, Rasuulullh saw,  bersabda: أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنْ الْعَسَل
Artinya: “(Airnya) lebih dingin dari es dan lebih manis dari madu.”[13].
5) Darimana sumber air Telaga (Al Haudh) itu?
Dijelaskan bahwa air Al Haudh itu berasal dari Al Kautsar, yaitu sungai yang terdapat dalam surga. Akan tersalur dari Telaga yang di surga itu melalui Mizaab (kran, saluran, pancuran).
Hal ini adalah sebagaimana dijelaskan dalam  sebuah hadits bahwa Rasuulullah saw, bersabda: يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنْ الْجَنَّةِ؛ أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ
Artinya: “Air mengalir dengan deras ke dalamnya melalui dua pancuran dari surga. Salah satunya terbuat dari emas dan yang kedua dari perak.” [14].


3. Orang-Orang yang Diusir dari Telaga

Sungguh indah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun  tidak semua umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa minum dari telaga beliau. Akan ada orang-orang yang diusir dari telaga beliau. Siapakah mereka?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan ada yang terusir dari telaga di antara umatku. Celakalah orang yang mengganti-ganti agama setelah aku meninggal dunia.
Salah satu golongan manusia yang akan diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mengganti-ganti syari’at yang telah Rasulullah ajarkan. Maka hendaknya kita berhati-hati akan hal ini. Kerjakanlah ibadah hanya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan ajarkan kepada umatnya. Periksalah setiap amal ibadah kita, sesuaikah dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tanyalah diri kita ketika hendak melakukan sebuah ibadah, apakah ibadah tersebut sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Adakah dalil yang memerintahkannya? Karena setiap amal ibadah hukum asalnya adalah haram dikerjakan, kecuali jika ada dalil yang mensyariatkannya. 
Imam Qurthubi mengatakan bahwa ulama berpendapat setiap orang yang murtad dan ahlu bid’ah adalah orang yang terusir dari telaga. Yang paling keras pengusirannya adalah yang paling jauh dan menyimpang dari ajaran para salaf.
Termasuk di dalamnya adalah orang yang berbuat zhalim dan menutupi kebenaran, memusuhi dan menghina orang-orang yang membela kebenaran, serta orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan bid’ah.
Adapun orang-orang munafik, akan disikapi sebagaimana sikap yang nampak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengajaknya ke telaga, lalu disingkapkan tabir mereka sehingga diketahui bahwa mereka kafir. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Menjauhlah kalian!”
Dikenali dari Bekas Wudhu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Panjang sisi) telagaku lebih jauh jaraknya antara Ailah dan ‘Adn (keduanya adalah nama tempat), lebih putih dari salju, lebih manis daripada madu yang dicampur susu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang-bintang, dan aku benar-benar akan menghalangi manusia darinya sebagaimana seorang yang menghalangi unta milik orang lain dari telaganya. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mengenali kami waktu itu?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat-umat yang lain. Kalian datang kepadaku dengan anggota wudhu yang putih bersinar dari bekas wudhu”. (HR. Muslim).
Semoga kita dapat berkunjung ke telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meminum airnya yang lebih putih dari susu, lebih harum dari kesturi, dan lebih manis dari madu,amin.

Sebarkan !!! insyaallah Bermanfaat.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Syarah Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, hal.323 - 324, Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit; Pustaka Imam Syafi'i.
http://ustadzrofii.wordpress.com/
http://muslimah.or.id/aqidah/berkunjung-ke-telaga-rasulullah.html
***
[1]. (H.R.Bukhari no.6483 dan Muslim no.2290 dari Sahl bin Sa’d).
[2]. (H.R. Tirmidzi no.2443 dari Samurah r.a.,lihat shahihut tirmidzi no.1988 dan Silsilatul Ahaaadiits ash-Shahiihah no.1589).
[3]. (Hadits-hadits tentang adanya al-haudh riwayatnya mutawattir. Lihat hadits-hadits Bukhari dalam Kibaabur Riqaaq: bab ke-53, Muslim dalam Kitaabul Fathaa-il bab. Itsbaat Hadhi Nabiyyina wa Shifaatihi (IV/1792-1801). lihat Kitaabus Sunnah li Ibni Abi ‘Ashim; bab Dzikru Hadhin Nabi hal. 307-344, Syarhul ‘Aqidha Thahaawiyyah hal.227-228, Takhrij Syaikh al-Bani dan Syarah Lum’atil I’tiqaad hal.123-125 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsamain.)
[4]. (H.R.Bukhari no.6579 dan Muslim no.2292).
[5].yang diriwayatkan oleh Al Imaam Muslim no: 2292, dari Shohabat ‘Abdullah bin ‘Amr  رضي الله عنه,
[6].Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim رحمه الله dalam Kitab “As Sunnah” no: 723, dari Shahabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه,
 [7]. Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhary no: 6580 dan Al Imaam Muslim no: 2303, dari Shahabat Anas bin Maalik رضي الله عنه
[8]. Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhary no: 7579 dan Al Imaam Muslim no: 2292 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه,
[9].  Hadits Riwayat Al Imaam Ahmad no: 6162, dari Shahabat Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, dan sanadnya di-shhiihkan oleh Imaam Al Hakim,
[10]. Hadits Riwayat Al Imaam At Turmudzy no: 3361 dan kata beliau Hadits ini Hasan Shahiih, juga dishahiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه
[11]. Riwayat Al Imaam Muslim no: 2292, dari Shahabat ‘Abdullh bin ‘Umar رضي الله عنه 
[12]. Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhary no: 7579 dan Al Imaam Muslim no: 2292 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه,
[13]. Hadits Riwayat Al Imaam Ahmad no: 6162, dan sanadnya di-Hasankan oleh Al Mundziry dalam At-Targhiib wa at-Tarhiib (Jilid III halaman 1310) no: 5194, 
[14]. Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 2301, dari Shahabat Tsauban رضي الله عنه,

Tidak ada komentar: