AYO MENGHAFAL AL-QUR'AN: Mari bergabung menjadi penghafal Al-Qur'an dalam grup whatsapp dengan metode MANDIRI: 1.Sistematis, 2. Informatif 3. Simpel; Info & Pendaftaran Ikhwan klik MUSHAF1 dan Akhawat klik MUSHAFAH 1KONSULTASI WARIS ISLAM. Butuh solusi masalah waris keluarga online dan cepat ? klik KONSULTASI

Memberi Anak Nama Yang Baik Dan Sesuai Sunnah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Masih dalam rangkaian tata cara  meng-aqiqahkan anak, disunnahkan bayi yang baru lahir diberi nama yang bagus dan dicukur rambutnya serta bersedekah seberat timbangan rambutnya dengan perak jika hal itu memungkinkan.
Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا 
“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).
Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (tidak dikenal) oleh masyarakat.


1. Hak Bapak Memberikan Nama dan Nasab

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.
Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ (5) سورة الأحزاب
“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5).
Oleh karena itu manusia pada hari Kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. 

2. Nama-Nama yang Disukai, Boleh, dan Diharamkan

  1. Nama-nama yang paling disukai adalah Abdullah, abdurrahman. Berdalil kepada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Dan nama yang paling benar adalah Hamman dan Harits, seperti yang terdapat di dalam hadits shahih. Dan sungguh Rasulullah saw. telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama AbdullahDan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.
  2. Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim. Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.
  3. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi. Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi). Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shahih. Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Shalih Dari Kalangan Kaum Muslimin.Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih(HR. Muslim). Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang shalih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir. Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, misal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir
  5. Dibolehkan memberi nama dengan nama-nama Malaikat.
  6. DiharamkanIbnu Hazm mengatakan: "Mereka sepakat, tidak membolehkan (mengharamkan) memberi nama yang disembah selain Allah, seperti: Abdu 'Uzza, Abdu Hubal, Abdu Umar, Abdul Ka'bah, dan Hasya Abdul Muththalib.
  7. Nama yang makruh. Rasulullah saw. melarang memberi nama anak dengan nama-nama sebagai berikut: Yassar (kaya), Rabbah (banyak keberuntungannya), Nujaih (sukses) dan Aflah (bahagia). Karena hal itu dapat jadi merupakan sarana mendo'akan kesialan. Dalam hadits Samurah, bahwa Nabi saw. bersabda: "Janganlah kau namai anakmu itu dengan Yassar, Rabbah, Nujaih dan Aflah. Karena sesungguhnya jika engkau menanyakannya : Apakah ia memang demikian  (keadaannya)? jangan sampai ada yang menjawab: Tidak." (Riwayat Muslim). Maksudnya jawaban: "Tidak kaya, tidak beruntung, tidak sukses,dan tidak bahagia (pen..)

3. Adzan di Telinga Anak Yang Baru Dilahirkan

Termasuk di sunnahkan mengadzankan anak yang baru lahir di telinga kanan, dan mengiqamatkan di telinga sebelah kiri, hal ini dimaksudkan agar yang petama sekali ia dengar adalah nama Allah. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzi yang menshahihkan , dari Rafi' r.a., ia berkata: "Aku pernah melihat Nabi saw. mengazankan shalat di telinga Hasan bin Ali waktu Fathimah melahirkannya."
Dan Ibnu Sunni meriwayatkan dari Hasan bin Ali, bahwa Nabi saw. bersabda: "Siapa yang kedatangan anak laki-laki yang baru lahir, maka hendaklah ia mengazankan di telinga kanannya dan mengiqamahkannya di telinga kirinya, Maka anak itu, tidak akan terkena bahaya (gangguan) setan."


4. Pembagian Daging Aqiqah, Masak atau Mentah ?

Soal dibagikannya dalam bentuk mentah atau masak, ada 2 pendapat yang berbeda, diantaranya:
  1. Dibagikan dalam bentuk matang; Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sudah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi). Daging aqiqah diberikan kepada tetangga dan fakir miskin juga bisa diberikan kepada orang non-muslim. Apalagi jika hal itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya dan dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, Mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan : 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada saat itu adalah orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga juga boleh memakan.
  2. Dibagikan dalam bentuk mentah. Perlu diketahui ahli fiqih menyatakan bahwa secara umum  Aqiqah tata caranya seperti Udhiyah (Qurban), dan dalam Udhiyah Allah ta’ala berfirman: Artinya :  ... فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (الحج:٢ Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.  Kalimat Ath’im dalam ayat bermakna umum dan bisa mencakup daging yang matang atau yang mentahMembagikan daging aqiqah dengan dimasak dulu, kemudian ditambah dengan nasi seperti sebuah perhelatan atau walimahan biasa, itu tidak berdasarkan dari contoh Nabi Muhammad Saw.
  • Adapun urusan aqiqah ini adalah urusan ubudiyyah dimana pikiran serta perasaan tidak boleh ikut campur untuk mengaturnya. Aqiqah tidak diperkenankan ditukar dengan beras sekalipun pada saa itu beras lebih diperlukan, atau ditukar dengan pakaian meskipun harganya mahal, atau dibagikan uangnya seharga kambing atau domba yang akan dijadikan aqiqah, walaupun dengan alasan lebih bermanfaat menurut pikiran dan perasaan kita. Soal-soal taabbudi kita wajib melakukan segala sesuatunya sesuai dengan yang telah disyariatkan oleh Allah SWT. dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
  • Sekiranya Islam dalam hal ini memperbolehkan dua cara tersebut memasak dan mentah, maka Rasulullah Saw senantiasa memilih asyaruhum yang ter-ringan dari dua perkara yang dapat dipilih.Ternyata disini tidak ada keterangan yang kuat agar aqiqah dimasak dahulu. bahkan ada keterangan yang menegaskan bahwa aqiqah itu adalah nusuk sebagaimana halnya kurban.Dalam hal ini sudah jelas bahwa Rasulullah Saw membagikan nusuk (ibadah dengan cara menyembelih seperti kurban) itu, sebagaimana sabdanya "Man syaa'a iqtatha'a". siapa yang mau, boleh memotongnya sendiri.

                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                          
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Wallahu a'lam.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat
Sumber: 
Fikih Sunnah 13, hal.169-171,  Sayyid Saabiq, sampai dengan "adzan di telinga..."
Aqiqahonline.com dan beberapa sumber lain mulai dari "Pembagian Daging aqiqah."
http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/permata-hati/etika-memberi-nama-anak-dalam-islam/

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Ada 2 fungsi azan. Pertama, sebagai alat untuk memberitahukan bahwa waktu shalat telah tiba. Shalat wajib adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya secara definitif, "

...Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."(Q.S. An-Nisaa 4:103).

Sebelum shalat, kita harus yakin dulu bahwa waktunya sudah masuk. Di sinilah pentingnya azan sebagai alat untuk memberitahukan bahwa waktu shalat telah tiba.

Kedua, azan berfungsi sebagai alat untuk mengajak orang shalat berjamaah. Memang di masyarakat kita ada kebiasaan kalau bayi baru lahir suka diazani padahal dalam ilmu medis saat janin berusia 16 minggu pun janin sudah bisa mendengar suara dari luar rahim ibunya, juga mayat mau dimasukkan ke lubang kubur suka diazani terlebih dahulu. Tentu saja, ini salah alamat sebab mayat dan bayi baru lahir tidak mungkin memenuhi panggilan azan. kita harus hati hati dalam menjadikan hadist sebagai dasar karena tidak semua hadist dapat dijadikan dasar, karenanya timbul level level dalam ilmu hadist ada yg shahih, dhoif,dll. untuk mengetahui hadist2 shahih atau dhoif kita harus menguasai dulu ilmu hadist.

jadipintar.com mengatakan...

Sebelumnya terima kasih antum telah berbagi pengetahuan lewat blog ini, perkenannkan saya memberikan tanggapan, sbb.:
1.Tentang adzan untuk bayi yang baru lahir.
Adalah kesunahan berdasarkan beberapa hadits yang bisa dipertanggungjawabkan, bahkan dijadikan rujukan dalam kitab Fikih Sunnah yang telah diakui akurasinya oleh jumhur ulama. Melakukan adzan ini hendaklah karena mengikuti perbuatan Nabi,insyaallah ada manfaatnya yang bisa diketahui oleh umatnya atau belum diketahui manfaatnya saat ini.
2. Tentang adzan saat penguburan, memang tidak ada dasar yang haq dari syari'ah, mungkin itu adalah adat atau logika yang lestarikan masyarakat.

Namun demikian, sebagai sebuah diskusi keilmuan, saya tetap mengharap masukan dan pencerahan dari siapapun yang mengetahui masalah ini lebih baik.
Jazaakumullaahu khaira.

Nurus syamsi mengatakan...

Maaf Gan Mau Tanya.
Anak Saya Sekarang sdh berumur 8 thn,apa masih bisa di akikah ??
dulu waktu lahir gak di akikah karena saya masih gak mampu akikah.
ditunggu balasannya, terimakasih gan

jadipintar.com mengatakan...

Waktu Penyembelihan
Jika memungkinkan, penyembelihan dilangsungkan pada hari ke-7. Jika tidak, maka pada hari ke-14. Dan jika yang demikian masih tidak memungkinkan, maka pada hari ke-21 dari hari kelahirannya. Jika masih tidak memungkinkan maka pada kapan saja. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dikatakan: تذبح لسبع ، و لاربع عشر ، و لاحد و عشرين "Disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari ke-empatbelas, dan pada hari kedua puluh satu."
Silakan baca juga artikel blog ini tentang aqiqah, silakan klik: http://www.jadipintar.com/2013/09/Pengertian-dan-Tata-Cara-Aqiqah-Yang-Sesuai-Tuntunan-Islam.html