AYO MENGHAFAL AL-QUR'AN: Mari bergabung menjadi penghafal Al-Qur'an dalam grup whatsapp dengan metode MANDIRI: 1.Sistematis, 2. Informatif 3. Simpel; Info & Pendaftaran Ikhwan klik MUSHAF1 dan Akhawat klik MUSHAFAH 1KONSULTASI WARIS ISLAM. Butuh solusi masalah waris keluarga online dan cepat ? klik KONSULTASI

Klasifikasi Ahli Waris Dalam Keluarga

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Ahli waris adalah orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan (mewarisi) dari orang yang meninggal, baik karena hubungan keluarga, pernikahan, maupun karena memerdekakan hamba sahaya (wala’).
Ahli waris ialah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris. 


1. Syarat Terjadinya Pewarisan

Pada dasarnya persoalan waris-mewarisi selalu identik dengan perpindahan kepemilikan sebuah benda, hak dan tanggung jawab dari pewaris kepada ahli warisnya. Dan dalam hukum waris Islam penerimaan harta warisan didasarkan pada asas ijbari, yaitu harta warisan berpindah dengan sendirinya menurut ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan pada kehendak pewaris atau ahli waris. Pengertian tersebut akan terwujud jika syarat dan rukun mewarisi telah terpenuhi dan tidak terhalang mewarisi.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembagian harta warisan. Syarat-syarat tersebut selalu mengikuti rukun, akan tetapi sebagian ada yang berdiri sendiri.
Tiga syarat warisan yang telah disepakati oleh para ulama, tiga syarat tersebut adalah:
1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara haqiqy, hukmy (misalnya dianggap telah meninggal) maupun secara taqdiri.
2. Adanya ahli waris yang hidup secara haqiqy pada waktu pewaris meninggal dunia.
3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti baik bagian masing-masing. 


2. Rukun-Rukun Waris

Adapun rukun waris harus terpenuhi pada saat pembagian harta warisan. 
Rukun waris dalam hukum kewarisan Islam, diketahui ada tiga macam, yaitu :
1. Muwaris, yaitu orang yang diwarisi harta peninggalannya atau orang
yang mewariskan hartanya. Syaratnya adalah muwaris benar-benar telah meninggal dunia. Kematian seorang muwaris itu, menurut ulama dibedakan menjadi 3 macam :
a) Mati Haqiqy (mati sejati). Mati haqiqy (mati sejati) adalah matinya muwaris yang diyakini tanpa membutuhkan putusan hakim dikarenakan kematian tersebut disaksikan oleh orang banyak dengan panca indera dan dapat dibuktikan dengan alat bukti yang jelas dan nyata. 
b) Mati Hukmy ( mati menurut putusan hakim atau yuridis). Mati hukmy (mati menurut putusan hakim atau yuridis) adalah suatu kematian yang dinyatakan atas dasar putusan hakim karena adanya beberapa pertimbangan. Maka dengan putusan hakim secara yuridis muwaris dinyatakan sudah meninggal meskipun terdapat kemungkinan muwaris masih hidup. Menurut pendapat Malikiyyah dan Hambaliyah, apabila lama meninggalkan tempat itu berlangsung selama 4 tahun, sudah dapat dinyatakan mati. Menurut pendapat ulama mazhab lain, terserah kepada ijtihad hakim dalam melakukan pertimbangan dari berbagai
macam segi kemungkinannya.
c) Mati Taqdiry (mati menurut dugaan). Mati taqdiry (mati menurut dugaan) adalah sebuah kematian (muwaris) berdasarkan dugaan keras, misalnya dugaan seorang ibu hamil yang dipukul perutnya atau dipaksa minum racun. Ketika bayinya lahir dalam keadaan mati, maka dengan dugaan keras kematian itu diakibatkan oleh pemukulan terhadap ibunya.
2. Waris (ahli waris), yaitu orang yang dinyatakan mempunyai hubungan kekerabatan baik hubungan darah (nasab), hubungan sebab semenda atau perkawinan, atau karena memerdekakan hamba sahaya. Syaratnya adalah pada saat meninggalnya muwaris, ahli waris diketahui benar-benar dalam keadaan hidup. Termasuk dalam hal ini adalah bayi yang masih dalam kandungan (al-haml). Terdapat juga syarat lain yang harus dipenuhi, yaitu: antara muwaris dan ahli waris tidak ada halangan saling mewarisi.
3. Maurus atau tirkah, yaitu harta peninggalan si mati setelah dikurangi biaya perawatan jenazah, pelunasan hutang, dan pelaksanaan wasiat.


3. Pembagian / Penggolongan Ahli Waris

Ahli waris atau anggota keluarga yang berhak mendapatkan bagian warisan terdiri dari beberapa golongan, yakni ashhabul furudh dan ashabah.
  1. Ashhabul Furuudh:  Adalah ahli waris yang mempunyai bagian tertentu, misalnya 1/8, 1/6, 1/4, 1/3,1/2 dan 2/3. yang termasuk ashhabul furuudh ada 12 golongan (4 laki-laki dan 8 permpuan).  Dari golongan laki-laki:   1. bapak 2. kakek shahih dan seterusnya ke atas 3.saudara laki-laki se-ibu 4. suami. Dari golongan perempuan:  1. isteri, 2. anak perempuan, 3.saudara perempuan sekandung, 4.saudara perempuan sebapak, 5. saudara perempuan se-ibu, 6.cucu perempuan (dari anak laki-laki), 7. ibu, 8. nenek serta  seterusnya ke atas. 
  2. 'Ashabah : adalah mereka yang mendapatkan sisa setelah ashabul furuudh    mendapatkan  bagian yang telah ditentukan.  Terbagi menjadi 2 jenis: 1. 'Ashabah Nasabiyah (karena jalur keturunan), 2.'Ashabah Sababiyah (karena sebab tertentu)
1. 'Ashabah Nasabiyah: 
1.'Ashabah bi nafsih ('Ashabah dengan sendirinya / otomatis). Yakni semua laki-laki yang nasabnya dengan si mayit tidak diselingi oleh perempuan.   Kriterianya adalah karena ke-anak-an, ke-bapak-an, ke-saudara-an dan ke-paman- an. Urutannya berdasarkan prioritas, sbb,:
  • Anak laki-laki
  • Cucu laki-laki (dari anak laki-laki) dan seterusnya ke bawah
  • Bapak
  • Kakek seterusnya sampai ke atas.
  • Saudara laki-laki sekandung.
  • Saudara laki-laki se-bapak.
  • Keponakan laki-laki (dari saudara laki-laki sekandung)
  • Keponakan laki-laki (dari saudara laki-laki se-bapak).
  • Paman sekandung (saudara laki-laki bapak, sekandung).
  • Paman se-bapak (saudara laki-laki bapak, se-bapak).
  • Sepupu laki-laki (anak paman sekandung)
  • Sepupu laki-laki (anak paman se-bapak).
  • Laki-laki atau perempuan yang memerdekakan.
  • 'Ashabah laki-laki yang memerdekakan,
2. 'Ashabah bi Ghairih ("Ashabah karena orang lain). Yakni perempuan yang menjadi 'ashabah karena adanya laki-laki yang sederajat.
Anggotanya :
  • Anak perempuan, 2 orang perempuan atau lebih(jika bertemu anak laki-laki). Keterangan : jika anak perempuan sendirian dia mendapat 1/2 bagian warisan, tapi jika ada ahli waris anak laki-laki, anak perempuan menjadi 'ashabah; bagiannya menjadi 1/2 dari bagian anak laki-laki.
  • Seorang anak perempuan (jika bertemua anak laki-laki) atau cucu perempuan (dari anak laki-laki). jika bertemu cucu laki-laki (dari anak laki-laki).
  • Seorang saudara perempuan atau saudara-saudara perempuan sekandung; jika bertemu saudara/saudara-saudara laki-laki sekandung.
  • Seorang saudara perempuan (jika bertemu seorang saudara laki-laki); atau saudara-saudara perempuan se-bapak (jika bertemu saudara-saudara laki-laki se-bapak)
3. 'Ashabah Ma'a Ghairih (Menjadi 'Ashabah bersama orang lain).
         Yakni setiap perempuan yang memerlukan perempuan lain untuk menjadi 'ashabah. Anggotanya:
  • Saudara perempuan sekandung seorang atau lebiih bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan (dari anak laki-laki).
  • Saudara perempuan se-bapak seorang atau lebih bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan (dari anak laki-laki).
2. 'Ashabah Sababiyah :
    Adalah maula (tuan) yang memerdekakan . Bila orang yang memerdekakan tidak ada,  maka  warisan itu bagi 'ashabahnya yang laki-laki.
Tabel ashhabul furud dan 'ashabah
Ikhtisar Ringkas Ashhabul Furudh dan 'Ashabah.
Contoh untuk pemahaman:
Jika seseorang  meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris sbb.:
  1. Ibu
  2. Anak Laki-laki
  3. 2 Anak perempuan
  4. Bapak
Penjelasan/Pemecahan ;
  1. Ibu adalah ashhabul furuudh- telah ditetapkan bagiannya- jika si mati ada meninggalkan anak maka bagian ibu adalah 1/6 dari harta pusaka.
  2. Anak laki-laki dan bapak asalnya adalah 'ashabah bi nafsih, tetapi karena anak laki-laki prioritasnya lebih tinggi, maka bapak berubah menjadi ashhabul fururdh; bahwa jika yang meninggal mempunyai anak, maka bagian bapak adalah 1/6 dari harta pusaka.
  3. Anak perempuan asalnya adalah ashhabul furuudh, tetapi karena ada anak laki-laki (sederajat), maka posisinya menjadi 'ashabah bi ghairih (karena ada orang lain)
  4. Posisi bapak adalah ashhabul furuudh, yakni mendapat bagian 1/6. Jika tidak ada anak laki-laki, posisi bapak adalah 'ashobah (mengambil semua sisa).maka hasil bagian untuk ahli waris di atas adalah, sbb.:
Tabel pembagi waris
Contoh Pembagian Waris Keluarga.
Keterangan : 
  • Penyebut 6 adalah agar bisa dibagi 6
  • Sisa 'ashabah setelah diambil bagian untuk ibu (1)  dan bapak (1) adalah 4.
  • Laki-laki mendapat 2x bagian perempuan, maka 4 dibagi 4=1; tiap anak perempuan dapat 1/6 anak laki-laki 2x1/6= 2/6
Mudah kan ?
Cobalah berlatih membagi waris sendiri dengan download di Microsoft excel anda, klik Software Pembagi Waris..

insyaallah saya akan membantu semampunya.
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini
 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ    
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Ilmu Fara'idh, A.Hasan
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/26/jtptiain-gdl-s1-2006-anissofiat-1298-bab2l_21-0.pdf                 

31 komentar:

Rusydi Adhitia mengatakan...

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh , Saya mau tanya pembagiannya jika bapak saya meninggal dunia . meninggalkan ibu,anak laki-laki (2) , anak perempuan. karena kakek dan nenek dari kedua orang tua saya sudah meninggal dunia.

Wasiun Mika mengatakan...

'Alaikum salam Wr.Wb. Salam kenal Mas Rusydi Adhitia, terima kasih telah berkunjung ke blog E TA'LIM.
Jawaban:
1. Ibu dinisbatkan kepada almarhum, statusnya adalah isteri
2. Pertanyaan anda jawabannya ada di dalam Al-Qur'an di Surah An-Nisa ayat 11.
3. Hasil pembagiannya adalah:

Isteri /ibu anda :12,5%
Anak laki-laki (1):35%
Anak laki-laki (2):35%
Anak Perempuan... :17,5%

Keterangan :
-'Ashabah adalah sisa setelah diambil jatah isteri, yakni 7/8.
-Bagian anak laki-laki adalah 2x bagian anak perempuan, maka 7/8 harus dibagi 5, dan supaya hasilnya bulat maka semua pembilang dan penyebut juga dikalikan 5, begitulah cara penghitungannya, mudah-mudahan bermanfaat.

Jessica Amelia mengatakan...

wah, artikel yang bagus mengenai hukum Islam.
adek aqu mungkin harus aqu kacii tau nih.
hhe,

KK, tolong kunjungan balik ke blog adek ku yah,
kangrushend.blogspot.com

aqu uda kok ngasi satu klik tombol Google Plusnya kk.
mohon kasi tombol google plusnya juga ya kk :)

maacii :)

Wasiun Mika mengatakan...

Ada Ubi ada talas, ada budi ada balas, siap saling berbagi.

tani rustani mengatakan...

Assalamu’alaikum...
Mohon pencerahanya, kasusnya sbb:
Ibu kami meninggal pada tahun 2008, sedangkan Ayah kami meninggal pada tahun 2009. Perlu diketahui orang tua kami (almarhum+almarhumah) merupakan Janda dan duda, masing masing mempunyai anak dengan suami+istri yang pertama. Adapun saudara kami se ibu terdiri dari 1 orang permpuan, sedangkan saudara se bapak terdiri dari 2 orang: 1 orang laki2 dan 1 org perempuan. Sedangkan saudara kami yg se ibu dan se ayah (saudara kandung) asalnya berjumlah 5 orang terdiri dr 3 orang prempuan dan 2 orang laki2. Tetapi tahun 2010 saudara kami yg perempuan meninggal (telah menikah, tetapi blum punya anak). Sebagai informasi tambahan: kakaek/nenek baik dari puhak ibu/ayah sudah meninggal. Sehubungan dengan situasi dan kondisi, pembagian harta waris akan dlaksanakan sekarang. Bagaimanakah cara pembagiannya menurut aturan Islam.. sbelumnya kami ucapkan jazakallohu...

Wasiun Mika mengatakan...

'Alaikum salam Wr.Wb. terima kasih anda telah menanyakan pembagian waris secara syar'i. Satu hal yang saya belum jelas adalah ttg jml saudara kandung yang 5 orang, apakah sudah termasuk anda atau di luar anda. Di sini akan saya asumsikan termasuk anda di dalamnya.
Penjelasan:
1.Setiap harta warisan selayaknya dibagikan setelah adanya peristiwa kematian, agar problemnnya tidak bertumpuk2, dan dikhawatirkan ada ahli waris yang menyusul meninggal sebelum menerima hak warisnya (seperti saudara perempuan kandung anda yang meninggal th 2010). Dalam kasus ini, pembagian harta pusaka akan dikelompokkan menjadi 3 tahap sesuai dengan urutan kematian, yakni 1. kematian ibu 2. kematian ayah, dan 3. kematian saudara permpuan.
2. Yang dimaksud harta pusaka yang akan dibagikan adalah semua harta peninggalan yang menjadi milik sah almarhum/almarhumah saja, tidak dicampur dg harta gono-gini. silakan baca "Pengertian Harta Pusakan."
A.PEMBAGIAN WARIS I saat Ibu meninggal th.2008
Ahli Waris:
1. Suami (ayah anda yg meninggal tahun berikutnya)
2. Anak permpuan (dari suami terdahulu)
3. 3 anak perempuan+2 anak lk (hasil perkawinan dg ayah anda/saudara sekandung anda).

B. PEMBAGIAN WARIS II saat ayah meninggal th. 2009
Ahli Waris:
1. 1 anak lk+1 anak perempuan (dari isteri ayah terdahulu)
2. 3 anak prmpuan+ 2 anak lk (hasil perkawinan dg ibu anda/saudara sekandung anda).
nb.:Saudara perempuan anda yang meninggal 2010 tetap mendapat bagian, karena dia masih hidup ketika ibu dan bapaknya meninggal.

C. PEMBAGIAN WARIS III saat saudara perempuan meniggal 2010
Ahli waris:
1. Suaminya (50%)
2. Sisanya dibagi untuk semua saudara kandung dengan proporsi saudara laki2 mendapat 2x bagian saudara perempuan.
Dengan metode ini, maka ahli waris yang telah meninggal saat pembagian nanti, padahal dia punya hak andai dibagi saat kematian terjadi, maka bagiannya dibagikan kepada ahli warisnya sesuai ilmu fara'idh.
Mudah-mudahan bisa membantu, jika ada hal-hal yang masih perlu ditanyakn, insyaallah saya bersedia menjawab selama memiliki ilmunya. Salam ukhuwah untuk semua keluarga. Wa iyyaakum.

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum wr wb
kami mohon dibantu utk kasus waris sbb : ayah kami meninggal thn 2011 lalu, meninggalkan seorang istri, 2 anak angkat perempuan, keponakan laki laki dari saudara laki2 sekandung 1. kami mohon pencerahannya, berapakah bagian masing2? Terima kasih banyak sebelumnya. Wassalamu'alaikum

Wasiun Mika mengatakan...

silakan baca jawabannya di " forum konsultasi...." atau klik di teks berjalan warna pink, dibawah lembar ini.

Anonim mengatakan...

Ass.wrwb kami mohon dibantu kasus waris : ayah saya telah meninggal, beliau meninggalkan 1 org istri, 4 org anak sekandung (3 laki2 dan 1 perempuan) dan 5 anak tiri (3 laki2 dan 2 perempuan) bawaan ayah saya dari istri terdahulu, yg selama ini diurus dan dibesarkan oleh ibu saya.kami mohon pencerahan dan bagaimana pembagiannya? Walaikum salam...

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum wr.wb, ada sebidang tanah yang dibeli kakek saya pada saat dia sudah menikah dengan istri ke tiganya dan tanah itu akan dijual, apakah anak dari istri pertama dan istri kedua berhak mendapat pewarisan

jadipintar.com mengatakan...

'Alaikum salam Wr. Wb. Silakan lihat jawabannya di "Forum Konsultasi dan Tanya-Jawab ...."

jadipintar.com mengatakan...

BAPAK KAWIN LAGI, APAKAH ANAK ISTERI TERDAHULU DAPAT WARISAN ?
'Alaikum salam wr. wb.
Dapat, ketika orang tua meninggal, ANAK mewarisi peninggalan bapaknya biarpun sudah kawin berulang kali.

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum wr.wb, saya punya kerabat, seorang perempuan tidak punya saudara, tidak berkeluarga. Orang tua, kakek nenek pun sudah meninggal. Beliau masih punya sepupu laki dan perempuan yang merupakan anak-anak dari saudara -saudara ibunya. Apakah mereka ahli warisnya kelak kalau beliau meninggal? Dan siapa lagi yang jadi ahli waris lainnya? Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.

jadipintar.com mengatakan...

SEPUPU DARI BIBI APAKAH MENDAPAT BAGIAN ?
'Alaikum salam wr. wb.
1. Termasuk ahli waris jika mereka adalah sepupu laki-laki anak dari paman (sekandung/se-bapak).
2. Termasuk ulul arhaam jika mereka adalah sepupu perempuan dari paman (sekandung/se-bapak/se-ibu).
3.Keponakan laki-laki dan perempuan anak dari bibi, TIDAK BERHAK MENDAPAT BAGIAN WARIS.
Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel jadipintar berikut:
http://www.jadipintar.com/2013/04/Pengertian-Ahli-Waris-Menurut-Hukum-islam.html
Semoga bermanfaat.

Anonim mengatakan...

permisi mau tanya. ayah saya sudah meninggal dunia dan mewariskan 2 istri. Istri pertama mempunya 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. sedangkan istri kedua mempunyai 2 anak laki-laki.
mohon nasihat untuk perhitungannya.
syukron.

jadipintar.com mengatakan...

WARISAN UNTUK DUA ORANG ISTERI DAN ANAK-ANAKNYA.
Assalaamu'alaikum wr.wb.
Alangkah lebih baik jika anda membiasakan salam sebelum menyapa.
Bahwa tata cara yang saya berikan adalah secara ISLAM, mempunyai beberapa ketentuan:
1. Jika suami mati dan meninggalkan anak, maka bagian isterinya adalah 1/8 (Q.S. An-Nisa: 12).
2. Jika jumlah isteri dua orang, maka yang 1/8 itu dibagi untuk 2 isteri, atau masing-masing mendapat 1/16.
Jawaban pertanyaan saudara adalah, sbb:
[1]. Isteri (I): 9/144 (6,25%)
[2]. Isteri (II): 9/144 (6,25 %)
[3]. Anak laki-laki: 28/144 (19,44 %)
[4]. Anak laki-laki: 28/144 (19,44 %)
[5]. Anak perempuan:14/144 (9,72 %)
[6]. Anak laki-laki: 28/144 (19,44 %)
[7]. Anak laki-laki: 28/144 (19.44 %).
Semoga bermanfaat.

Anonim mengatakan...

Assalaamu'alaikum wr.wb.

Saya anak kedua dari 3 bersaudara, kakak pertama saya laki-laki dan adik bungsu kami laki-laki.
Kedua orangtua kami sudah meninggal dunia dan meninggalkan sebuah warisan kepada kami.

Bagaimana perhitungannya menurut Islam, mohon bantuan perhitungannya, terimakasih.

Wassalam

jadipintar.com mengatakan...

BAGIAN WARIS LAKI DAN PEREMPUAN BISA BERBEDA
"Alaikum salam wr. wb.
Saudara, saya tidak bisa memperoses pertanyaan anda karena tidak tahu anda sendiri berjenis kelamin apa, laki-laki atau perempuan. Kalau anonim kan bersifat umum, kecuali kalau ada anonimah....

Ayub Gunawan Sudiro mengatakan...

Assalamu'alaikum Ustadz. izinkan sy untuk bertanya. Ibu kandung sy meninggal 18 Des 2014, Ayah kandung sy menikah lg sekitar Juni 2015, kemudian Ayah kandung sy meninggal 16 Agust 2015. Saya seorang laki-laki,mempunyai kakak kandung perempuan,dan adik angkat perempuan (tetapi adik angkat tsb sudah diamanatkan oleh Ibu&Ayah kandung sy bahwa dia dianggap sebagai anak Ayah&Ibu sy sendiri).Bagaimanakah cara pembagian warisnya?Apakah adik angkat sy mempunyai hak atas waris tsb?
Ayah kandung sy mempunyai Ibu kandung yg msh hidup, 2 sodara kandung laki, 3 sodara kandung perempuan.
Ibu kandung sy mempunyai Ayah kandung & Ibu kandung yg msh hidup, 5 sodara kandung laki, 1 sodara kandung perempuan.
Sy saat ini sedang bingung karena kakak perempuan sy menolak untuk berbagi dengan ibu tiri & adik angkat kami padahal adik angkat kami dalam keadaan lumpuh layu usianya 4 thn. Terima kasih atas pencerahannya. Mohon maaf apabila ada kesalahan.

Wassalamu'alaikum

Wasiun Mika mengatakan...

'Alaikum salam wr. wb.
Bapak Ayub Gunawan Sudiro yang dirahmati Allah, karena ada ahli waris yang berbeda, maka harus dipisahkan dulu antar harta milik ibu dan bapak anda sebelum dibagikan. Jika sudah ditentukan, maka Ahli waris dan bagiannya menurut hukum Islam adalah sbb.:
1. Ketika Ibu anda meninggal, ahli waris dan bagiannya adalah:
- Suami: 9/36.
- Ayah: 6/26.
- Ibu: 6/36.
- Anak laki-laki: 10/36.
- Anak perempuan: 5/36.
(Bagian suami ditambahkan sebagai tambahan warisan bapak anda jika memang belum dibagikan sebelumnya).
2. Ketika Ayah anda meninggal, ahli waris dan bagiannya adalah:
- Ibu: 12/72.
- Isteri (ibu tiri anda): 9/72.
- Anak laki-laki: 34/72.
- Anak perempuan: 17/72.
Keterangan:
1. Anak angkat tidak mendapatkan bagian waris karena menurut Islam ia bukan anak kandung atau ada hubungan perkawinan, tidak ada ikatan bahkan untuk perwalian sekalipun, dan Allah melarang untuk mengakuinya sebagai anaknya sendiri/seperti anaknya sendiri (silakan lihat surat Al-Ahzab [33] ayat 4-5). Namun demikian, para ahli waris yang beroleh bagian dianjurkan untuk memberinya sesuai keikhlasan masing-masing, itu adalah shadaqah.
2. Para saudara ibu dan ayah semuanya terhalang (mahjub) mendapat waris karena adanya anak laki-laki (anda).
Semoga bermanfaat.

muzakky rabbani mengatakan...

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Pak Ustadz.

Saya anak perempuan tunggal dari Ayah dan ibu, 2 tahun yang lalu Ibu saya meninggal kemudian Ayah menikah lagi, sebulan yang lalu ayah meninggal sehingga saya tinggal berdua dengan ibu tiri yang kebetulan tidak punya anak dari hasil pernikahan dengan ayah saya..saya masih punya paman dan bibi yang merupakan saudara kandung dari ayah.

Adapun rumah yang kami tempati adalah rumah yang dibeli dan dibangun semasa ayah dan ibu kandung saya masih hidup. Bagaimanakah pembagian waris atas rumah dan tanah peninggalan ayah dan ibu kandung saya tersebut? Terimakasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yusma Gompel mengatakan...

Assallamualaikum pak ustad,, saya ingin bertanya ke ustad : saya laki laki , ayah saya meninggal dunia dan meninggal kan 1 org istri 1org anak laki laki dan 2 anak perempuan ,,disini sya ingin bertanya cara pembagian warisan ayah saya,,mohon penjelasan dari ustad . Terima kasih

Wasiun Mika mengatakan...

'Alaikum salam wr.wb.
1. Dari peninggalan kedua orang tua anda, pisahkanlah mana yang milik ayah dan mana yang milik atau saham ibu, karena milik keduanya memiliki konsekuensi pembagian berbeda.
2. Untuk harta warisan milik ibu, maka pembagiannya adalah:
1. anak: 1/2
2. Suami (bpk anda): 1/4
Sisanya dilihat barangkali ada ahli waris lain seperti bapak/ibu/kakek/saudaranya ibu.
3. Untuk harta milik ayah (+ tambahan perolehan 1/4 dari milik ibu dibagiakan kepada:
1. Anak : 1/2
2. Isteri (ibu tiri): 1/8
3. Paman dan bibi (saudara ayah) mendapatkan sisanya dengan komposisi paman dan bibi=2:1. (Ini dengan catatan tidak ada ahli waris : bapak, ibu, kakek, nenek dari ayah).
Semoga bermanfaat.

Wasiun Mika mengatakan...

Untuk Sdr. Yusma Gompel,
'Alaikum salam wr. wb.
Pembagian harta warisan ayah anda dan ahli warisnya adalah sbb.:
1. Isteri: 4/32 (12,5%)
2. 1 Anak laki-laki:14/32 (43,75%).
3. 2 Anak perempuan, masing-masing:7/32 (21,87%).
Semoga bermanfaat.

Ari Kurnia mengatakan...

Permisi ustad.
Bisa tolong beritahu hal apa saja yang perlu di perhatikan ketika melakukan pembagian harta waris seperti sebelum atau sesudah nya..trim..

Wasiun Mika mengatakan...

Sebelum harta waris dibagikan, perlu dilakukan beberapa hal:
- Inventarisir semua harta peninggalan si mati, taksir dan kurskan dengan nilai rupiah.
- Ambilah dari sebagian harta itu untuk biaya pengobatan dan biaya-biaya pengurusan jenasah (jika ada).
- Bayarlah pula dengan uang warisan itu hutang si mati (jika ada).
- Tunaikan wasiat (harta) si mati kepada non-ahli waris (jika ada).
- Bagikan sisa harta peninggalan si mati sesuai dengan pembagian yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Adapun Setelahnya diantaranya:
- Banyak beribadahlah para ahli warisnya untuk menambah amalan pahala bagi si mati.
- Mendo'akan dan memohonkan ampunan.
- Menyambung silaturahim dengan orang-orang yang pernah dikenal si mati.
- Menjalankan amanat, nasihat, pesan atau permintaan si mati (jika Ada).
- Menjaga keutuhan keluarga.
- Dll.
Semoga bermanfaat.

adrian adha mengatakan...

Assalamuallaikum wr wb, saya ingin bertanya, ibu saya seoorang janda dan telah meninggal dan almh memiliki 2 org anak laki (1 belum menikah dan 1 sudah beranak 5) dan 3 org anak perempuan (masing2 beranak 2) dan almh memiliki 2 saudara sekandung perempuan dan 1 saudara sekandung laki2... bagaimanakah pembagian harta warisnya? Apakah adik kandung almh ibu kami trmsk ahli waris? Terima kasih ustadz sebelumnya, semoga Allah selalu memberikan yg terbaik buat ustadz..Aamiin

Wasiun Mika mengatakan...

'Alaikum salam wr.wb.
1.Pembagiannya:
- 2 orang anak laki-laki, masing-masing: 2/7 bagian.
- 3 orang anak perempuan, masing-masing: 1/7 bagian.
2. Saudara-saudara ibu terhalang (mahjub) untuk mendapatkan warisan karena adanya anak laki-laki alamarhumah.

Kj24 mengatakan...

Assalamuallaikum wr wb, saya ingin bertanya ayah saya almarhum beristri empat antara lain :
Saya anak laki laki dari istri ke dua.

Istri pertama (almarhum) mempunyai anak perempuan 1.
Istri kedua (masih hidup) mempunyai anak laki 1, anak perempuan 1.
Istri ke tiga (masih hidup ) mempunyai anak anak laki 3 satu almarhum (punya anak laki-laki) dan anak perempuan 1.
Istri ke empat (almarhum) mempunyai anak perempuan 1.

Bagaimana cara membagi harta waris sesuai syariat islam.

Terima kasih sebelumnya,
Wassalammualayukum wrwbb

Semoga Allah selalu memberikan yg terbaik buat ustadz..Aamiin

Wasiun Mika mengatakan...

Alaikum salam wr. wb. Amin, terima kasih do'anya.
1. Bagian isteri:
hanya diberikan kepada 2 isteri yang masih hiduup ketika almarhum meninggal, masing-masing: 1/16 (6,25%).
2. Bagian ANAK:
Anak laki isteri ketiga itu meninggalnya dengan ayah duluan siapa ?
1.jika duluan ayah, maka dia mendapatkan bagian, sehingga sisa 7/8 dibagikan kepada semua anak, yakni: 4 anak laki masing-masing 14,58% dan 4 anak perempuan masing-masing:7,29%.
2. Tapi jika duluan anak lelaki, maka dia tidak mendapatkan bagian dan tidak diturunkan kepada anak-isterinya, hanya disyariatkan memberi sekedarnya saja. Maka pembagiannya:
3 Anak laki-laki masing-masing 17,5% dan 4 anak perempuan masing-masing: 8,75%.

Semgoga bermanfaat.

Wasiun Mika mengatakan...

KAMI MOHON MAAF .....
Assalaamu'alaikum wr.wb.
Dikarenakan banyak tugas luar, waktu blogging ana di depan laptop sangat sempit sehingga lama sekali baru bisa menjawab pertanyaan pengunjung. Sekiranya ada yang hendak berkonsultasi waris, ana sarankan menggunakan fasilaitas KONSULTASI WARIS PRIBADI saja, karena langsung terhubung dengan hp yang mengikuti kemana saja ana pergi. Atau copas dan berkunjung ke link ini
http://www.jadipintar.com/2014/10/konsultasi-waris-islam-online.html
Mohon pengertian dari para penegak hukum waris Islam semuanya, jazaakumullaahu khaira.