Sabtu, 29 November 2014

Larangan Wakaf Yang Merugikan Ahli Waris

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Pengertian wakaf adalah: menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah. Seseorang diharamkan untuk memberikan wakaf yang merugikan ahli waris, karena hadits Rasulullah saw.: 
لاَ ضَرَارَ وَلاَ ضِرَارَ فِى الإِسْلاَمِ
"Tidak ada yang dirugikan dan tidak ada pula yang merugikan di dalam Islam."
Maka bila seseorang mewakafkan hartanya dengan merugikan ahli waris, maka wakafnya itu batal. Dikatakan di dalam kitab Ar-Raudhah An-Nadiyyah:
Walhasil, wakaf yang dimaksudkan untuk memutuskan apa-apa yang diperintahkan Allah untuk disambung, dan bertentangan dengan ketentuan Allah itu batil dari segi asalnya dan tidak sah sama sekali. Contohnya seperti orang yang mewakafkan kepada anak-anaknya yang lelaki dan tidak mewakafkan kepada anak-anaknya yang perempuan, dan yang serupa dengan itu. Orang ini tentu tidak ingin mendekat kepada Allah Ta'ala, bahkan dia ingin menentang hukum-hukum Allah dan memusuhi apa yang disyaria'atkan Allah kepada hamba-Nya. Dan wakaf Thaghut (setan) ini dia gunakan sebagai alat untuk mencapai maksud setan. Yang demikian ini perlu Anda perhatikan, karena hal ini sering terjadi di zaman kita ini. Demikianlah, telah berwakaf orang yang tidak terdorong untuk berwakaf kecuali oleh keinginan untuk melanggengkan harta diantara keluarganya dan agar wakaf tidak keluar dari milik mereka, lalu dia berwakaf kepada keluarganya. Orang yang demikian ini sebenarnya hendak menentang hukum Allah, yaitu perpindahan milik dari pewarisan dan penyerahan milik itu kepada ahli waris untuk diperlakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Masalah kaya atau miskinnya ahli waris itu bukanlah masalah orang yang berwakaf, akan tetapi ia adalah masalah Allah Ta'ala. memang terkadang, sekalipun itu jarang terjadi, wakaf kepada keluarga ini ada pula kebaikannya sesuai dengan keaneakaragaman pribadi mereka. Maka hendaklah diperhatikan baik-baik oleh pengawas perwakafan sebab-sebab yang menyampaikan pada maksud itu.
Dan diantara apa yang jarang terjadi itu adalah bila orang berwakaf kepada siapa yang shaleh diantara keluarganya, atau yang sibuk menuntut ilmu. Wakaf yang demikian mungkin maksudnya ikhlas, pendekatannya kepada Allah terwujud, dan amalnya disertai dengan niat baik. Akan tetapi menyerahkan perkara ini kepada hukum Allah dan diantara hamba-hamba-Nya dengan mengharap keridhaan-Nya, itu lebih utama dan lebih layak.


Wakaf dan Wasiat

Dari sisi kerugian para ahli waris, wakaf bisa disamakan dengan wasiat. Maka dimana wasiat ada pagar pembatasnya, wakaf pun demikian adanya, dengan maksud membentengi para ahli waris dari kondisi kekurangan karena adanya wakaf sebagai pengurang bagian para ahli waris.
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً۬ ضِعَـٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلاً۬ سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap [kesejahteraan] mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S.An-Nisa:9)
  • Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: "Ayat ini mengenai seorang laki-laki yang meninggal kemudian seseorang mendengar bahwa ia memberikan wasiat yang membahayakan ahli warisnya. Maka Allah memerintahkan orang yang mendengar hal itu untuk bertaqwa kepada Allah dengan membimbing dan mengarahkan yang bersangkutan pada kebenaran. Maka hendaklah ia berusaha memperhatikan ahli waris orang tersebut, sebagaimana ia senang melakukannya kepada ahli warisnya sendiri tatkala ia takut mereka sia-siakan [1]. Demikian pendapat Mujahid dan yang lainnya [2].
  • Dalam Ash-Shahihain ditegaskan bahwa ketika Rasulullah saw. menjenguk Sa'd bin Abi Waqqash, ia bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki banyak harta dan tidak memiliki ahli waris kecuali seorang puteri. Bolehkah aku menshadaqahkan dua pertiga hartaku?" Beliau menjawab:"Tidak." Ia bertanya "Setengah?" Beliau menjawab, "Tidak." Dia bertanya lagi, "(Bagaimana) kalau sepertiga?" Beliaupun menjawab, "Ya, spertiga boleh. Dan sepertiga itu banyak." Kemudian Rasulullah saw. bersabda: إِنَّكَ إِنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ، خَيْرٌُ مِنْ أَنْ تَذَرَ هُمْ عَالَةًَ، يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ "Sesungguhnya kamu tinggalkan keturunanmu dalam keadaan cukup adalah lebih baik daripada engkau biarkan mereka miskin meninta-minta kepada orang lain." [3].
Semoga bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 14, hal. 172-173, Sayyid Saabiq, penerbit: PT.Al-Ma'arif-Bandung.
Tasir Ibnu Katsir jilid 2 hal. 434-435, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
-------------------------------------------------------------------------------------
[1]. Ath-Thabari (VIII/19).
[2]. Ath-Thabaru (VIII/21).
[3]. Fathul Baari (V/427) dan Muslim (IV/1253). Bukhari (no.3936), Muslim (no.1628).