بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
ADAB MIMPI BURUK: Rasulullah saw. bersabda:"Jika salah seorang dari kalian mimpi yang tidak ia suka, hendaklah ia mengubah posisi tidurnya, meludah ke kiri tiga kali, memohon kepada Allah kebaikan mimpi itu, dan berlindung kepada Allah dari keburukannya." H.R. Ibnu Majah (3910) dari Abu Hurairah r.a.Islami, Sehat, Ilmiah JENIS MIMPI: Rasulullah memerintahknnya dalam sebuah hadits, beliau bersabda: "Mimpi itu ada tiga macam: Mimpi baik merupakan kabar gembira dari Allah, mimpi sedih berasal dari syaitan, dan mimpi biasa yang dialami seseorang. Maka jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak disukai, hendaklah ia bangun dan mengerjakan shalat, serta jangan menceritakan mimpi itu kepada orang lain."H.R. Muslim (2263) dari Abu Hurairah r.a.Islami, Sehat, IlmiahJANGAN MENGUMBAR MIMPI: Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada seorang ulama atau orang yang bisa memberi nasihat." H.R. Ad-Darimi (II/126), Tirmidzi (2280) dan ia mensahihkannya dari Abu Hurairah r.a.

Kamis, 24 April 2014

Alasan Kebolehan Berbuka Bagi Orang yang Berpuasa Sunnah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
undangan makan
Dijamu. Silakan Makan.
Salah satu perbedaan antara puasa Wajib dan puasa Sunnah adalah, jika puasa Wajib (puasa Ramadlan) haruslah berniat puasa pada malam harinya, atau harus berniat dahulu sebelum melakukan puasa, tetapi kalau itu puasa Sunnah bolehlah berniat berpuasa pada pagi harinya, misalnya, sewaktu kita ingin makan untuk sarapan pagi, kemudian tidak kita jumpai satu makanan pun untuk dimakan, lalu pada saat itu kita berniat untuk berpuasa saja, maka yang demikian itu boleh dan Insya Allah sah. 
Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.berikut :Dari ‘Aisyah ummul mukminin, ia berkata,
دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ
“Pada suatu hari  Nabi SAW masuk ke rumah lalu bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu (makanan) ?” Kami menjawab, “Tidak ada”. Maka beliau bersabda, “Bila demikian maka aku akan berpuasa”. Dan pada hari yang lain beliau datang pula, maka kami berkata, “Ya Rasulullah, ada orang yang menghadiahkan hais ( makanan yang dibuat dari korma, samin, dan susu kambing) kepada kita”. Beliau bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku, karena sesungguhnya aku berpagi dalam keadaan berpuasa”. Kemudian beliau makan”. [1]. 
Demikian juga halnya dalam membatalkan puasanya, puasa sunnah lebih fleksibel, tidak seperti puasa wajib yang hanya membatasi pada alasan sakit, dalam perjalanan, haid dan nifas.

Beberapa Hadits yang membolehkan membatalkan Puasa.

1. dari Ummu Hanif r.a.
Artinya:
Rasulullah saw. Masuk ke rumahku pada hari penaklukan, maka disajikan minuman, lalu beliau minum, kemudian diberinya pula aku, maka jawabku: ‘Saya berpuasa’.  Sabda Nabi: 
الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ
‘Orang yang sedang berpuasa sunati itu menjadi raja atas dirinya. Jika kau suka, berpuasalah, dan jika tidak maka berbukalah’,”[2].
2. Dari Abu Juhaifah, ceritanya:
“Nabi saw. Mempersaudarakan Salman dengan Abu Darda’. Suatu ketika Salman berkunjung kepada Abu Darda’, di dapatinya ibu Abu Darda’ berpakaian lusuh, maka tanyanya: ‘Bagaimana keadaanmu’? Ujarnya: ‘Saudara Darda’ tidak menghiraukan keperluan dunia ! Kemudian Abu Darda’ datanng, dan dibuatkannya makanan buat Salman, katanya: Makanlah, saya berpuasa ‘! Ujar Salman: ‘Saya tak hendak makan, sebelum anda makan’. Maka ia pun makanlah. Dan setelah hari malam, dan Abu Darda’ bangun hendak beribadah, kata Salman: ‘Tidurlah ! Abu Darda’ pun tidur, kemudian pergi, ‘Tidurlah’! perintah Salman pula. Tatkala dating akhir malam, Salman berkata: ‘Bangunlah sekarang’! Dan kedua mereka pun bershalatlah. Maka kata Salman kepada Abu Darda’: ‘Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atas dirimu, dan kamu sendiri juga punya hak atas dirimu, begitupun keluargamu juga berhak atas dirimu, maka berikanlah hak itu kepada yang empunya masing-masing.”
Abu Darda’ pun mendapatkan Nabi saw. Dan menceritakan padanya peristiwa tersebut. Maka sabda Nabi saw. Artinya: ‘Benarlah Salman.” [3].
3. Diterima dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., katanya:
“Saya buatkan makanan buat Rasulullah saw. Beiiau pun datanglah padaku bersama sahabat-sahabatnya. Tatkala makanan telah dihidangkan, berkatalah salah seorang dari anggota rombongan: ‘Saya berpuasa’. Maka bersabdalah Rasulullah saw. Artinya: “Saudaramu telah mengundangmu makan dan berpayah-payah untuk menjamumu,” Lalu sabdanya: “Berbukalah, berpuasalah nanti suatu hari sebagai gantinya, jika kau kehendaki.” [4].
Kebanyakan ulama membolehkan berbuka bagi  orang yang berpuasa tathawwu’ dan berpendapat sunah mengkadha hari yang ketinggalan itu, mengambil alasan kepada hadits-hadits yang sah dan tegas ini.

Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah

1. Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.
“Pada suatu hari, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, "Apakah kamu mempunyai makanan?" Kami menjawab, "Tidak ada." Beliau berkata, "Kalau begitu, saya akan berpuasa." Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, "Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju)." Maka beliau pun berkata, "Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa."[5]. An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ”
2. Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah diatas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.
3. Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,
لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.[6].
An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. 
Semoga bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                          “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: Fikih Sunnah jilid 3, hal.251-253, Sayyid Sabiq, Penerbit: PT.al-Ma’arif – Bandung.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1]. [HR. Muslim no. 1154-juz 2, hal. 809]
[2]. H.R. Ahmad, Daruquthni dan Baihaqi
[3]. H.R. Bukhari dan Turmudzi
[4]. H.R.Baihaqi dengan isnad yang hasan.
[5]. (HR. Muslim no. 1154).
[6].(HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)