Jumat, 30 Januari 2015

Pengertian Sabar, Shalat dan Khusu' Sebagai Pintu Datangnya Pertolongan

Serial Tafsir Istilah kata
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Arti Kata

(ٱلصَّبۡرِ) Ash-Shabr atau sabar adalah menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan di hati. Ia juga berarti ketabahan. Imam Ghazali mendefinisikan sabar sebagai ketetapan hati melaksanakan tuntunan agama menghadapi rayuan nafsu. Secara umum kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian pokok, pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah yang melibatkan anggota tubuh, misalnya ibadah haji dan peperangan, termasuk sabar dalam menerima cobaan seperti penyakit, penganiayaan, dll. Kedua adalah sabar rohani yang menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar pada keburukan, seperti nafsu amarah, nafsu seksual, dll.
(ٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ) Ash-Shalah, atau shalat secara bahasa artinya do'a, dan secara syariat Islam ia adalah "Ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam."
Adapun (خَـٰشِعِ) Khusu' adalah ketenangan hati dan keengganannya mengarah kepada kedurhakaan. Yang dimaksud dengan orang-orang yang khusu' oleh ayat ini adalah mereka yang menekan kehendak nafsunya dan membiasakan dirinya menerima dan merasa tenang menghadapi ketentuan Allah serta selalu mengharapkan kesudahan yang baik.


*****************************************************************
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ وَإِنَّہَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِينَ 
Dan mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (Q.S. Al-Baqarah: 45).
*****************************************************************

Penjelasan Makna Sabar

Dengan firman-nya di atas, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meraih kebaikan di dunia dan akhirat yang mereka dambakan, dengan cara menjadikan kesabaran dan shalat sebagai penolong. Berikut pendapat beberapa ulama mengenai tafsir ayat dimaksud.
  • Fungsi sabar dan shalat. Dalam tafsirnya tentang ayat ini, dijelaskan: "Hendaklah kalian mengejar kehidupan akhirat dengan cara menjadikan kesabaran dalam mengerjakan berbagai kewajiban dan menjadikan shalat sebagai penolong."(Muqatil bin Hayyan).
  • Sabar itu puasa. Yang dimaksud dengan sabar itu adalah shiyam atau puasa (Mujahid). [1].
  • Ramadhan bulan kesabaran. "Oleh karena itulah Bulan Ramadhan disebut sebagai bulan kesabaran sebagaimana disebutkan dalam hadits. (Al-Qurthubi dan selainnya).[2]. Dikatakan pula bahwa yang dimaksud dengan sabar dalam ayat tersebut adalah menahan diri dari perbuatan maksiat, karena disebutkan bersama dengan pelaksanaan berbagai macam ibadah, dan yang paling utama adalah ibadah shalat.
  • Sabar itu ada 2. "Sabar itu ada dua, sabar ketika mendapat musibah, itu adalah baik, dan lebih baik lagi adalah sabar dalam menahan diri dari perkara yang diharamkan oleh Allah." (Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari 'umar bin Khattab, juga dari al-Hasan al-Basri).[3].

Penjelasan Makna Shalat

Adapun firman Allah Ta'ala: (ٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ), sesungguhnya shalat termasuk perkara besar yang menolong seseorang untuk mendapatkan ketetapan dalam suatu perkara, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
ٱتۡلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur’an] dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Ankabut: 45).
Dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya: (وَإِنَّہَا لَكَبِيرَةٌ) kembali kepada kata shalat. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Bisa juga dhamir itu kembali kepada kandungan ayat itu sendiri, yaitu wasiat (pesan) untuk melakukan hal tersebut, sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang kisah Qarun:
 وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَيۡلَڪُمۡ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيۡرٌ۬ لِّمَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا وَلَا يُلَقَّٮٰهَآ إِلَّا ٱلصَّـٰبِرُونَ
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar". (Q.S. al-Qashash: 80).
Dan juga firman-Nya:
 وَلَا تَسۡتَوِى ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ‌ۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِى هِىَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُ ۥ عَدَٲوَةٌ۬ كَأَنَّهُ ۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ۬ 
وَمَا يُلَقَّٮٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّٮٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ۬
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. O Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Q.S. Fussilat: 34-35).
Artinya tidak akan ada orang yang mampu melaksanakan wasiat itu kecuali orang-orang yang sabar. Dan tidak akan ada yang mampu melaksanakannya kecuali orang-orang yang mendapatkan keuntungan besar.
Maka bagaimana pun, firman Allah  (وَإِنَّہَا لَكَبِيرَةٌ) berarti beban yang sangat berat, (إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِينَ)"Kecuali bagi orang-orang yang khusu'."
Ketika menjelaskan masalah ini,  Tafsir Jalalain menguraikan sebagai berikut: "Shalat disebutkan secara khusus untuk menyatakan bagaimana pentingnya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa jika Nabi saw. hatinya risau disebabkan suatu masalah, maka beliau segera melakukan shalat. Adapula yang mengatakan bahwa perkataan ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang terhalang beriman disebabkan ketamakan dan ingin kedudukan. Maka mereka disuruh bersabar yang maksudnya ialah berpuasa, karena berpuasa dapat melenyapkan itu, dan shalat, karenanya dapat menimbulkan kehusyu'an dan membasmi ketakaburan."

Penjelasan Makna Khusu'

Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari ibnu Abbas r.a. bahwa khusu' itu artinya: "Yaitu orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah." [4].
Firman Allah Ta'ala:
ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّہُم مُّلَـٰقُواْ رَبِّہِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ
[yaitu] orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Q.S. al-Baqarah: 46).
Ayat ini menyempurnakan kandungan ayat sebelumnya, bahwasanya shalat atau wasiat itu merupakan beban yang berat.
(  إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِينَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّہُم مُّلَـٰقُواْ رَبِّہِمۡ) "Kecuali bagi orang-orang yang khusu', yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka." yakni mengetahui bahwa mereka akan dikumpulkan kepada-Nya pada hari Kiamat dan dikembalikan kepada-Nya.
(وَأَنَّهُمۡ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ)"Dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya." yakni semua urusan mereka kembali kepada masyi-ah (kehendak) Allah. Dia memutuskan segala persoalan sesuai dengan kehendak dan keadilan-Nya. Karena mereka meyakini adanya hari pengembalian dan permberian pahala, maka terasa ringan bagi mereka dalam melaksanakan berbagai ketaatan dan meninggalkan berbagai kemungkaran.
Adapun firman-Nya: (يَظُنُّونَ أَنَّہُم مُّلَـٰقُواْ رَبِّہِمۡ) "Mereka meyakini bahwa mereka akan menemui Rabbnya," Ibnu Jarir mengatakan: "Masyarakat Arab terkadang menyebut yakin itu dengan sebutan zhann (persangkaan), keraguan (syakk) adalah zhann. Seperti halnya perkataan mereka, "zhulmah (kegelapan)" dan "dhiyaa' (cahaya)", diganti dengan kata yang sama, yaitu "shudfah" juga kata "al-mughiits" dan "al-mustafhiis" dengan sebutan "shaarikh", Dan kata-kata lainnya yang penyebutannya sama dengan lawan katanya.
Hal seperti ini juga bisa kita lihat dalam firman Allah Ta'ala:
وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّہُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡہَا مَصۡرِفً۬ا 
Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling daripadanya. (Q.S. Al-Kahfi: 53).
Dalam sebuah kitab shahih dikatakan:
"Bahwa Allah Ta'ala berfirman kepada seorang hamba pada hari Kiamat: 'Bukankan Aku telah menganugerahkan kepadamu seorang isteri? Bukankah Aku telah memuliakanmu? Bukankah Aku telah menundukkan bagimu kuda dan unta, serta membiarkanmu memimpin dan memiliki harta lalu ditaati?' Maka hamba itu menjawab: 'Benar.' Allah Ta'ala bertanya: 'Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan bertemu dengan-Ku?' Dia menjawab: 'Tidak.' Maka Allah berfirman: 'Pada hari ini Aku lupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan Aku.'"[5].


Ayat-Ayat Al-Qur'an Tentang Sabar


Semoga bermanfaat.
 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ 
Sumber:
Sahih Tafsir Ibnu Katsir I hal.238-241, Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
Tafsir Jalalain I hal.24, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti, Penerbit: Sinar Baru algensindo.
Tafsir al-Misbah I hal. 176-177, Prof.Quraisy-Syihab, Penerbit: Lentera Hati.
---------------------------------------------------------------------------------------------
[1]. Ibnu Abi Hatim (I/154).
[2]. Al-Qurthubi (I/372).
[3]. Ibnu Abi Hatim (I/155).
[4]. Tafsir Ath-Thabari (II/16).
[5]. Muslim (IV/2279). [Muslim(no.2968), dengan lafadz yang sedikit berbeda].