Senin, 20 April 2015

Mengenal Cara Kerja Sihir, Jenis, Media, Akibat Dan Cara Pengobatannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sihir berasal dari bahasa Arab "Sahara" yang artinya waktu antara gelap dan terang, dari turunan kata itu kita juga mengenal kata "sahur" yang artinya makan pada waktu hari masih gelap  (remang-remang) sampai menjelang fajar. Menurut bahasa (etimologi), sihir berarti sesuatu yang halus dan tersembunyi. Ada beberapa macam jenis sihir, termasuk cara kerja, metode , media yang digunakan, semuanya berbeda-beda sesuai dengan maksud dan sasaran sihir tersebut. Banyak istilah yang digunakan oleh para penyihir untuk mencelakakan korbannya. Antara lain: sihir, sikir, pelet dan gendam. Namun yang termasuk sihir paling ganas atau sadis adalah tenung, santet, atau janges. Pada dasarnya, teluh, tenung, gendam, santet, serta guna-guna, selalu dikonotasikan sama, yaitu Ilmu Hitam. Ia mempunyai kekuatan mencelakai atau membunuh. Hanya saja cara mempraktekkan, media, sarana, serta pengaruhnya berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Dalam prakteknya, dukun santet bisa menggunakan beberapa jenis bahan untuk disatukan sebagai media. Kemudian pencampuran dari berbagai benda tersebut dirapalkan sebuah mantera pemanggilan jin perewangan. Sang dukun sebelumnya terlebih dahulu akan melakukan puasa selama tiga hari berturut-turut yang dimulai pada hari Selasa dan diakhiri pada hari Jum'at atau sebaliknya. Dengan demikian jin perewangan tersebut akan dapat dia kendalikan.....

1. Beberapa Jenis Sihir dan Penjelasannya.

  1. Sihir Tenung. Inilah jenis sihir paling ganas, kobannya bisa muntah darah, perut sangat mulas, dan demam dengan tanpa sebab yang jelas (seperti gejala tipes). Adapun yang disebut misa hitam adalah praktek penyihiran seorang dukun - biasanya berpakaian kumal - dengan cara-cara tertentu. Prakteknya, si dukun duduk sambil mengucapkan mantra-mantra di tengah sesajen - berupa kemenyan utuh, candu, cermin - yang membentuk setengah lingkaran, kemudian menyuguhkan sesajen tersebut kepada ruh jahat, sambil mengutarakan maksudnya, yakni mencelakakan korban. Bila ia menghendaki korabannya meninggal, maka kemenyan itu dihancurkannya menjadi butir-butir kecil yang dibungkus dengan kain putih, kemudian diikat mirip mayat. Pada sihir jenges, teluh, atau santet, selain menggunakan syarat di atas juga ditambahkan benda-benda lain seperti : rambut, pecahan kaca, besi dan jarum dalam jumlah banyak yang disimpan dalam sesajen. Si dukun meminta kepada setan agar memasukkan benda-benda tersebut ke dalam tubuh korban. Jika permintaan itu terpenuhi, maka korban segera akan mendengar letusan di sekelilingnya, yang disusul dengan datangnya sakit atau kematian. Cara lain, si dukun memasukkan sepotong kawat yang panjang ke dalam lengan atau kaki si korban, berharap agar korbannya segera lumpuh.
  2. Sihir 'Iyafah (Melepas Burung). Sihir ini banyak dilakukan masyarakat jahiliyyah dengan bantuan burung. Caranya, burung yang ada di dalam sangkar dipaksa (dihardik) untuk segera terbang. Jika burung terbangnya ke atas atau ke samping, ke kanan atau ke depan, maka itu suatu tanda bahwa rencana jahat yang dimaksud bakal berhasil. Sebaliknya jika terbangnya ke bawah, ke kiri, dan ke belakang, itu berarti tanda kegagalan sebab itu niatnya harus diurungkan. Rasulullah saw. pernah bersabda: "Tiada penularan penyakit kepada orang sehat, tiada burung penentu nasib baik dan buruk, tiada burung hantu pembawa malang, dan tiada burung elang (pembawa sial). [1].
  3. Sihir Thiyyarah (Suara Burung). Jenis ini juga menggunakan burung, yakni dengan didengar suaranya. Bila mendengar suara burung hantu, diyakini pertanda bakal ada yang hamil; bila ayam jago berkokok di waktu Maghrib, tandanya bakal ada orang berbuat zina, dan masih banyak contoh-contoh yang hingga kini masih diyakini oleh orang Islam Indonesia. Rasulullah saw. pernah bersabda: "Sesungguhnya ketka Nabi saw. mengatakan bahea ada orang yang masuk surga tanpa melalui hisab, maka (para sahabat) bertanya: 'Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah ?' Jawab Nabi saw.:"mereka itu adalah orang-orang yang tidak menjadi peramal atau tidak datang memintu diramal, dan tidak pula menggunakan burung (untuk menentukan nasib)."[2].
  4. Sihir At-Tanjim (Ilmu Nujum). Sihir ini sebenarnya bagian dari ilmu perbintangan (astronomi), yang diselewengkan ke dalam praktek mistik (ilmu Nujum). Metodenya, seseorang mengambil petunjuk dari keadaan falak (peredaran bintang) sebagai pedoman atas segala kejadian di bumi ini, dengan tujuan dapat mengetahui berita-berita ghaib. Islam mengharamkan praktik ilmu nujum karena bintang dan falaknya bukan untuk dijadikan alat petunjuk ghaib, tapi untuk mengatur perjalanan waktu: shalat, penanggalan, musim, arah dsb. yang berguna bagi umat manusia. Allah Ta'ala berfirman: وَعَلَـٰمَـٰتٍ۬‌ۚ وَبِٱلنَّجۡمِ هُمۡ يَہۡتَدُونَ "dan [Dia ciptakan] tanda-tanda [penunjuk jalan]. Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk." (Q.S. An-Nahl: 16). Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa mengambil sepotong ilmu nujum, berarti ia mengambil sepotong ilmu sihir. Makin bertambah ilu (nujumnya), makin bertambah sihirnya." [3].
  5. Sihir Honde (Boneka Manusia). Metodenya membuat boneka manusia berwajah binatang, seperti anjing, himar, babi, dsb. Tujuannya agar dapat mengubah wajah manusia cantik atau sebaliknya. Sihir jenis ini termasuk ganas, sehingga sering disebut teluh jika si korban sampai meninggal. Namun jika korban hanya berubah muka saja, disebut sihir Pilemburan (sunda-red). Dan jika yang berubahnya itu hanya pada penghlihatan si korban, maka disebut sihir Simsalabim, seperti yang digunakan para tukang sulap.
  6. Sihir Raqi (Asihan). Sihir ini berupa mantra atau jampi yang dipraktikkan untuk membuat guna-guna, agar orang menjadi terpikat (jatuh cinta). Bacaan sihir ini selain tidak jelas, juga sudah bercampur dengan ajisaka. Contoh lafalnya: "Sang ratu badigul putih sang ratu bolek bak bodas ulah heureuy keur bobokor, kor, kor, kor, maka kidap, maka rerep, rep, rep, rep...asihane si...." ("Sang puteri berbadan putih raja perkasa terlihat cerah, engkau jangan mengganggu orangyang sedang mabuk asmara, hai dewa-dewi, tundukkanlah raga si anu dan pasrahkanlah kasih saya si anu..." -Jangan dipraktekkan ya?-
  7. Sihir Istikhmadat (Pelayanan setan). Sihir ini menggunakan jasa pelayan (khadam) dari jenis jin atau ruh leluhur. Metodenya, si dukun membakar kemenyan, kemudian dalam keadaaan tak sadar (kesurupan) ia memanggil khadam untuk menjawab segala pertanyaan atau memenuhi permintaannya. Rasulullah saw. sangat keras mengutuk orang-orang yang percaya kepada dukun si pembohong, sabdanya: "Barangsiapa yang datang kepada tukang ramal (dukun) kemudian ia membenarkan terhadap apa yang dikatakannya, berarti ia kafir kepada wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw."[4].
  8. Sihir Nashrah (Suwuk). Adalah jenis sihir yang digunakan untuk mengobati orang yang terkena sihir/guna-guna. Hukumnya jelas haram, karena hakikatnya sama dengan melakukan kehendak setan. [5]. Rasulullah saw. bersabda: "Mengobati sihir dengan sihir adalah perbuatan setan." dan sabda beliau yang lain :"Tidak dapat melepaskan sihir kecuali dengan penyihir" 

2. Cara Pengobatan Dari Sihir yang Halal

1. Dengan Rajah, yakni membaca ayat-ayat Al-Qur'an, do'a-do'a Rasulullah saw. dzikir, muawidzatain, ayat Kursi atau dengan do'a-do'a yang dibolehkan islam. Metodenya: 
  • Membaca ayat kursi setiap ba'da shalat fardhu.
  • Membaca surat Al-Falaq dan An-Nas (tiga kali) ba'da shalat Shubuh dan Maghrib.
  • Banyak membaca Ta'awwudz ('audzu billahi minasy-syaithaanir-rajiim).Do'a seperti Allahumma rabbin nas idzahabil ba'sa isyfi anta syaffi la syifa illaa syifa'uka syifa'u la yughadiru saqaman wa la alamaMembacakan ayat-ayat al-Qur'an seperti surat Al-A'raf (117-119), Yunus (79-82), dan surah Thaha (65-69). Sediakan segelas air ketika anda membaca ayat-ayat tersebut, setelah selesai, air tersebut diminum sedikit, kemudian sisanya dipakai untuk mandi.[6].
2. Mengetahui dan melakukan syarat-syarat sebelum membacakan do'a dan ayat di atas, yakni: 
  • Wajib diyakini, bahwa tidak ada yang dapat menghasilkan sesuatu (kesembuhan) kecuali Allah. Bila penyakit dari sihir itu hilang, maka hakikatnya yang menghilangkan adalah Allah.
  • Hubungan sihir dengan yang disihirkannya adalah batal (istidraj), yakni suatu hal yang dilarang Islam, sedangkan hubungan do'a kepada yang dido'akannya adalah hubungan haq, yakni yang dibenarkan Islam.
Semoga bemanfaat untuk penjagaan diri kita, amin.
         ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Sumber:
bid'ah-Bid'ah di Indonesia, hal.113-121, Drs. KH. Badruddin HSubky, Penerbit: Gema Insani Pers.
***
[1]. H.R. Bukhaari-Muslim, dari Abu Hurairah r.a.
[2]. H.R.Bukhari, Muslim.
[3]. H.R. Abu Daud, bersanad baik
[4]. Hadits Imam yang empat dari Abu Daud.
[5]. Ada beberapa ulama yang membolehkan seperti Qatadah dan Syarkawi.
[6]. Fathul Bari. Syarah hadits Bukhari, juz X hal. 33.