TAHUN BARU HIJRIYAH sebentar lagi , klik SEJARAHNYA, klik PUASA MUHARRAM

Selasa, 21 Oktober 2014

Pengertian Kafir dan Jenis-Jenisnya Menurut Tafsir al-Qur'an

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tafsir Istilah kata:
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. 
(Q.S.Al-Baqarah: 6).
*****

Pengertian Kafir dan Ketentuannya

Kufur secara bahasa (etimologi) berarti menutupi, sedangkan secara syara' (terminologi) kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya. Orang yang melakukan kekufuran, tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya disebut kafir.
Pengkafiran adalah hukum syar'i dan tempat kembalinya kepada Allah dan Rasul-Nya. [1].
  • Barangsiapa yang tetap keislamannya secara meyakinkan, maka keislamannya itu tidak bisa lenyap darinya kecuali dengan sebab yang meyakinkan pula.[2].
  • Tidak setiap ucapan dan perbuatan yang disifatkan nash sebagai kekufuran merupakan kekafiran yang besar (kufur akbar) yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena sesungguhnya kekafiran itu ada 2 macam; kekafiran kecil (ashgar) dan kekafiran besar (akbar). Maka hukum atas ucapan-ucapan maupun perbuatan ini sesungguhnya berlaku menurut ketentuan metode para ulama dan hukum-hukum yang mereka keluarkan. 
  • Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir kepada seseorang Muslim, kecuali telah ada petunjuk yang jelas, terang, dan mantap dari Al-Qur'an dan As-Sunnah atas kekufurannya. Maka dalam permasalahan ini tidak cukup hanya dengan syubhat dan dzan (persangkaan) saja. Ulama ahlus-sunnah tidak menghukumi pelaku dosa besar dengan kekafiran, tapi menghukuminya sebagai bentuk kefasikan dan kurangnya iman apabila bukan dosa syirik dan dia tidak menganggap halal perbuatannya.[3]

Tafsir Al-Misbah:
Ayat ini, Al-Baqarah:6 di atas, bukan berbicara tentang semua orang kafir, tetapi orang kafir yang kekufurannya telah mendarah daging dalam jiwa mereka, sehingga tidak lagi mungkin akan berubah. Ayat ini menunjuk kepada mereka yang keadaannya telah diketahui Allah sebelum, pada saat, dan setelah datangnya ajakan beriman kepada mereka. Al-Qur'an biasanya menggunakan perbedaan penyebutan untuk yang sudah paten kekafirannya dan yang masih bisa menerima ajakan; yakni dengan kalimat:كفر (bentuk fi'il madhi yang menunjukkan makna lampau, tetap) dan يكفرون (bentuk fi'il mudhari' yang menunjukkan makna sekarang atau yang akan datang). Analoginya seperti : Penyanyi (menyanyi sudah menjadi profesi) dengan orang yang Menyanyi (pernah atau sekali-sekali  saja menyanyi); Penulis dengan Orang yang menulis, dll.
Ayat ini tidak dapat dijadikan alasan bagi kita untuk menghentikan peringatan atau da'wah ajakan beriman, karena kita tidak tahu apakah yang dituju oleh sasaran da'wah adalah mereka yang serupa dengan yang dimaksud oleh ayat di atas atau bukan. Alasan ini diperkuat dengan beberapa firman Allah dalam ayat-ayat lain, misalnya:
1. Anjuran memberikan peringatan:
فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ 
... oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa’at, (Al-A'la: 9).
2. Da'wah sebagai bentuk tanggung jawab.
وَمَا عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَىۡءٍ۬ وَلَـٰڪِن ذِڪۡرَىٰ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ
Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi [kewajiban mereka ialah] mengingatkan agar mereka bertakwa. (Al-An'am: 69).
وَإِذۡ قَالَتۡ أُمَّةٌ۬ مِّنۡہُمۡ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا‌ۙ ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُہُمۡ عَذَابً۬ا شَدِيدً۬ا‌ۖ قَالُواْ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ
Dan [ingatlah] ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan [pelepas tanggung jawab] kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa". (Q.S.Al-A'raf: 164).[4].
3. Dll.

Tafsir Ibnu Katsir
Orang kafir ialah orang yang menutupi kebenaran dan menyembunyikannya. Dan Allah telah menetapkan hal itu bagi mereka, baik mereka diberi peringatan maupun tidak. Mereka akan tetap kafir dan tidak mempercayai apa yang engkau (Muhammad) bawa kepada mereka. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Yunus: 96-97
 إِنَّ ٱلَّذِينَ حَقَّتۡ عَلَيۡہِمۡ ڪَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ (٩٦) وَلَوۡ جَآءَتۡہُمۡ ڪُلُّ ءَايَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ (٩٧
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman[3], (96) meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (97)
Ali bin Abi Thalhah  meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas r.a. tentang ayat ke-6  al-Baqarah ini, : "Dahulu Rasulullah saw. sangat menginginkan semua orang beriman dan mengikuti petunjuk. Maka Allah Ta'ala mengabarkan bahwa tidak akan beriman kecuali orang yang sebelumnya telah Allah tetapkan kebahagiaan baginya dalam suratan takdir. Dan tidak akan sesat kecuali orang yang sebelumnya telah Allah tetapkan kesengsaraan baginya dalam suratan taqdir." (a) [5].
Semoga bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Rujukan:
[1]. Majmuu' Fataawaa (XII/335) oleh Ibnu Taimiyah dan 'Aqiidatul Tauhiid hal.81 oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin 'Abdillah al-Fauzan.
[2]. Majmuu' Fataawaa (XII/466) oleh Ibnu Taimiyah.
[3]. Syarah Aqidah ASWJ, hal. 362-363, Yazin bin Abdul Qadir jawas, Penerbit: Pustaka Imam Syafii.
[4]. Tafsir Al-Misbah jilid I hal.93-95, Prof. Quraisy Shihab, Penerbit: Lentera Hati.
[5]. Tafsir Ibnu Katsir jilid I hal. 129-130, Syaikh Shafiryyurahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir.
(a). Tafsir Ath-Thabari (I/252)