TAHUN BARU HIJRIYAH sebentar lagi , klik SEJARAHNYA, klik PUASA MUHARRAM

Jumat, 24 Oktober 2014

Beberapa Sebab dan Alasan Orang Tidak Membagi Waris Menggunakan Hukum Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sungguh kondisi umat Islam saat ini persis seperti apa yang sabdakan Rasulullah saw. dalam salah satu haditsnya: "Seperti buih di lautan" alias mudah diombang-ambingkan pihak lain. Lihatlah bagaimana umat kita mudah dipecah-belah, diadu domba hingga saling benci satu sama lain. Akibatnya sekarang umat Islam bagaikan hidup di lingkungan yang bukan merupakan habitatnya. Hukum syari'ah sudah banyak ditinggalkan orang dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Virus Demokrasi dan persamaan hak telah memporak-porandakan sendi-sendi pelaksanaan hukum agama kita. Parahnya lagi, yang menentang hukum syari'ah dengan lantang dan menentang penerapannya, (sebagian) adalah dari golongan orang  Islam sendiri. Subhanallah.....
Dalam kaitannya dengan pembagian waris secara hukum Islam, penerapannya lebih jauh lagi. Maka benarlah sabda Rasulullah saw. bahwa ilmu waris adalah ilmu yang pertama akan diangkat (tidak dipakai sebagai rujukan ).
Mengapa orang enggan membagi waris dengan menggunakan hukum waris Islam ?  
أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَـٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَ‌ۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمً۬ا لِّقَوۡمٍ۬ يُوقِنُونَ 
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan [hukum] siapakah yang lebih baik daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin? (Q.S. Al-Maidah:50)
Kami telah mengadakan penelitian dan penelusuran ke berbagai literatur dan nara sumber di internet, kami rangkum beberapa alasan dan jenis-jenis virus yang telah mengkontaminasi ummat Islam, diantaranya:

A. Alasan Teknis:

1. Kurangnya pengajaran dari para ulama atau ustadz mendakwahkan ilmu waris (faraidh) di dalam ta'limnya. Hal ini kemungkinan karena sebagian mubaligh menganggap ilmu waris itu susah, karena banyak melibatkan pecahan matematika atau boleh jadi menganggap ilmu waris itu hanya berguna jika ada kematian saja, bukan amalan sehari-hari (wallaahu a'lam).
Jenis virus: Kemalasan.
Kaidah IslamDari Ibnu Mas'ud: Dari Rasulullah:
 تَعَلَّمُوْا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ وَتَعَلَّمُوْا الْفَرَئِضَ وَعَلِّمُوْهَا النَّاسَ فَاِنِّى امْرُوءٌ مَقْبُوْضٌ وَالْعِلْمُ مَرْفُوْعٌ وَيُوْشِكُ أَنْ يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِى الْفَرِيْضَةِ فَلاَ يَجِدَانِ اَحَدًا يُخْبِرْهُمَا (اخرده احمد والنسائ والدرقطتى"
Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada manusia. pelajarilah fara'id dan ajarkanlah kepada manusia, karean aku adalah orang yang akan mati, sedang ilmupun bakal diangkat. Hampir saja dua orang berselisih tentang pembagian warisan dan masalahnya tidak menemukan seseorang yang memberitahukan kepada keduanya." (HR.Ahmad, An-Nasa'i, Daruquthni).

2. Masyarakat Tidak/kurang mengetahui ilmunya. 
Ilmu tentang pembagian harta warisan, yang disebut juga ilmu faraidh, sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, merupakan ilmu yang sangat sedikit orang yang mengetahuinya. Bahkan ilmu ini merupakan ilmu yang pertama kali akan diangkat (dicabut) dari bumi ini oleh Allah dengan cara dimatikan-Nya para ulama yang mengerti ilmu ini satu demi satu pada akhir zaman.
Jenis virus: kebodohan.
Kaidah Islam: عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ ,أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: تَعَلَّمُوا الفَرَائِضَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ القُرْآنَ 
Dari Umar bin Al-Khattab r.a. beliau berkata, "Pelajarilah ilmu faraidh sebagaimana kalian mempelajari Al-Quran". 

3. Kukuh dengan tata cara adat yang sudah turun-temurun.
Dalam pelaksanaannya, pembagian harta warisan masih kental dengan pengaruh adat-istiadat yang berlaku di daerah masing-masing. Sebagai contoh, untuk kasus di Indonesia, yang terdiri dari ratusan suku dengan budayanya masing-masing, terdapat banyak sekali perbedaan dalam hal warisan. Sebagian ada yang menggunakan garis bapak saja (patrilineal) sehingga hanya membagi warisan kepada pihak laki-laki, sementara sebagian yang lain menggunakan garis ibu saja (matrilineal) sehingga yang mendapat bagian hanya dari pihak perempuan; sebagian hanya memberikan kepada anak tertua, sementara sebagian yang lain hanya memberikan kepada anak termuda; sebagian lagi membagikan warisan secara sama rata, plus menganut prinsip harta gono-gini yang membagi harta antara suami dan istri 50%-50% secara pukul rata.
Jenis virus: keras kepala.
Kaidah Islamوَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "[Tidak], tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami". "[Apakah mereka akan mengikuti juga], walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Q.S.Al-Baqarah:70).

4.Tidak mau repot.
Dalam kenyataannya di masyarakat, kebanyakan orang Islam tidak mau membagi warisan menurut syariat Islam karena mereka tidak mau repot atau susah. Mereka menganggap hukum waris Islam rumit kalau diterapkan sehingga mereka menggunakan cara pembagian yang mudah, misalnya dengan musyawarah keluarga; yang penting, harta warisan dibagikan kepada orang-orang yang menjadi ahli waris.
Jenis virus: Kemalasan.
Kaidah Islam:                                                وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ ....
.... Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Maidah: 44).

B. Alasan Non Teknis:

1. Merasa hukum waris Islam tidak adil
Karena adanya kaidah, bahwa bagian anak laki-laki adalah 2 kali bagian anak perempuan. 
Jenis virus : Persamaan gender.
Kaidah Islam:                                                    يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوۡلَـٰدِڪُمۡ‌ۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۚ
Allah mensyari’atkan bagimu tentang [pembagian pusaka untuk] anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan...(Q.S. An-Nisa: 11).

2. Menganggap hukum waris Islam tidak  mengikat bagi umat Islam
Kelompok yang memiliki anggapan ini umumnya lebih mengutamakan akal (rasio) dalam menafsirkan Al-Qur`an dan Hadits. 
Jenis virus : Rasionalitas.
Kaidah islam: لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِىِّ أَهۡلِ ٱلۡڪِتَـٰبِ‌ۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءً۬ا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُ ۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّ۬ا وَلَا نَصِيرً۬ا
[Pahala dari Allah] itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah.(Q.S.An-Nisa: 123).

3. Menganggap bahwa Pemilik harta punya hak mutlak membagikan warisnya sesuai kemauannya.
Karena merasa bahwa harta yang dimiliki merupakan hak mutlak yang diperoleh dari hasil usaha dan jerih payahnya sendiri, banyak orang yang membagikan hartanya sebagai warisan ketika mereka masih hidup kepada para ahli warisnya dengan cara pembagian sendiri yang mereka anggap sudah adil menurut mereka tanpa memperhatikan hukum waris Islam. 
Jenis virus: kebodohan dan kesombongan.
Kaidah Islam:                      وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ ۥ يُدۡخِلۡهُ نَارًا خَـٰلِدً۬ا فِيهَا وَلَهُ ۥ عَذَابٌ۬ مُّهِينٌ۬ 
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (Q.S.An-Nisa:14). 

4. Menganggap bahwa pembagian warisan cukup berdasarkan surat Wasiat.
Sebagian orang membagi warisan dengan cara memberi wasiat kepada calon ahli warisnya ketika mereka masih hidup untuk dibagikan setelah mereka wafat. Mereka menganggap itulah pembagian yang benar tanpa mengindahkan aturan-atuan pembagian warisan menurut syariat Islam. 
Jenis virus: ingkar sunnah.
Kaidah Islam:  dari Abu Umamah r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ (صححه الألباني في صحيح أبي داود
“Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada pemiliknya, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu Daud).
(Kecuali atas persetujuan para ahli waris, berdasarkan hadits Ad-Daruquthni-red.)

5. Menganggap bahwa pembagian warisan sudah adil jika dibagi secara sama rata.
Sebagian orang memiliki prinsip sama-rata sama-rasa, dan hal itu juga mereka terapkan dalam pembagian harta warisan. Semua ahli waris diberikan bagian yang sama besar tanpa memandang perbedaan jenis kelamin dan kedudukan masing-masing di dalam susunan ahli waris. Mereka menganggap itulah keadilan yang sesungguhnya. 
Jenis virus: Komunisme.
Kaidah Islam:                 ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعً۬ا‌ۚ فَرِيضَةً۬ مِّنَ ٱللَّهِ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمً۬ا
[Tentang] orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat [banyak] manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisa:11).


6. Takut bagiannya sedikit lalu membawa masalahnya ke pengadilan.
Kecintaan dan ketamakan pada harta mendorong manusia untuk berusaha mendapatkannya dengan sekuat tenaga meskipun kadangkala membuat mereka melakukan perbuatan yang melanggar aturan syariat. Sebagian ahli waris ada yang, karena telah mengetahui bagiannya dari harta warisan jika dibagi menurut hukum faraidh Islam menjadi sedikit atau tidak mendapat bagian sama sekali, maka mereka pun membawa masalahnya ke pengadilan yang di sana dia tahu ada celah /peluang dirinya mendapatkan bagian, karena hukum dan sisitem pengadilannya yang tidak syar'i.
Jenis virus: Tamak / serakah.
Kaidah islam:
 وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُڪَّامِ لِتَأۡڪُلُواْ فَرِيقً۬ا مِّنۡ أَمۡوَٲلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan [janganlah] kamu membawa [urusan] harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan [jalan berbuat] dosa, padahal kamu mengetahui. (Q.S.Al-Baqarah: 188).

7. Belum adanya lembaga resmi yang mengurus dan mengatur pembagian harta warisan di antara umat Islam secara hukum Islam murni.
Benar bahwa di negara kita belum ada lembaga khusus yang berwenang mutlak mengurus dan mengatur pembagian harta warisan di antara umat Islam. Tetapi hal ini justru dijadikan alasan sebagian orang untuk tidak menjalankan pembagian warisan sesuai dengan hukum waris Islam. 
Jenis virus: Sekulerisme.
Kaidah islam: 
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡہِم بَرَكَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَـٰهُم بِمَا ڪَانُواْ يَكۡسِبُونَ 
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan [ayat-ayat Kami] itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S.Al-A'raf: 96).

Boleh jadi masih ada sekian banyak lagi alasan yang ada di masyarakant, tapi cukuplah pembahasan di atas mewakilinya, akhirul kalam saya tutup artikel ini dengan ajakan untuk merenungkan salah satu ayat Allah yang menggugah identitas kita sebagai seorang Mu'min.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَرَجً۬ا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمً۬ا

Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakekatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S.An-Nisa: 65).
Allaahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
             “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Al-Qur'an Online
Al-Fara'id-Ilmu Pembagian Waris, A.Hassan, Penerbit: Pustaka Progresif
http://islam.infoberguna.com/2012/06/alasan-tidak-dijalankannya-ilmu-dan.html.
Dan sumber-sumber lain yang telah diedit.